Gallery

Tentang Seseorang

Akhirnyaaa.. bisa ngeblog lagi, setelah sekian lama ga turun gunung, saking gembiranya lompat dari gunung #lebay.. orait!!

Hari ini ga kemana-mana, cuma di rumah. Baca buku, baca e-book, liat info pengumuman kelulusan tes dosen yang tak kunjung keluar, jadi intel bentar di facebook –ngeliat tingkah orang-orang yang terkadang banyak alaynya-, dan ditemani sama orang-orang yang pada rebutan karoke dari KM player ku.😆

Sebenernya pengen ngegosip dikit tentang kakak tingkatku. Lebih tepatnya bukan gossip, cuma ngasi info doang. Haha, sama aja kalee..!!

Jadi gini, aku mengenalnya saat aku mulai tertarik dengan yang namanya tarbiyah. Dan yang mengenalkan ku pertama kali ke tarbiyah ini adalah sahabatku, sebut saja namanya “I”. aku mulai dekat dengannya ketika awal-awal semester 3. Kami memang sekelas, dan di kelas cewek merupakan penghuni minoritas. Perbandingan antara cewek sama cowok kira-kira 1:5. Dulu ada sih teman dekat juga, teman satu kosan. Tapi, berhubung waktu perpindahan semester 2 ke semester 3, kelas kami dipecah lagi, jadi aku sama teman satu kosan itu ga sekelas lagi dan akupun udah pindah dari kosan yang lama. Jadi, intensitas pertemuanku dengannya tak sebanyak dulu.

Suatu saat, si I mengajakku ke suatu acara yang ditaja sama para dedengkot akhwat (perempuan, red) rohis di fakultasku. Entah karena dorongan apa, aku sangat ingin ikut. Seingatku cuma bayar goceng udah dapat makan siang sepuasnya. Sepuasnya? Iy, sepuasnya. Abisin aja tuh nasi sebungkus. Haha..

Kakak-kakak yang jadi panitia ga terlalu banyak. Ada yang udah alumni, ada juga yang lagi nyusun skripsi. Tapi, walaupun cuma beberapa orang panitia, acaranya keren bo. Mulai dari tausiyah, games, dan terakhir muhasabahnya. Walaupun waktu itu aku belum terlalu “ngeh” sama muhasabahnya. Cuma agak mewek dikit lantaran aku dengar ada yang udah terisak-isak, jadi lunturlah keperkasaanku. Whaat?!! Jangan berpikir yang macam-macam dulu ya, aku masih dan akan tetap jadi cewek tulen. #haiiik.. dan satu hal lagi yang ku dapatkan dan adalah tentang ukhuwah, persaudaraan yang saling terikat karena Allah. Dan di sanalah aku mengenal sosoknya pertama kali –seingatku-. Mungkin dulu pernah aku dikenalkan oleh si I kepadanya, tapi lupa-lupa ingat. Aku ngerasa baru ngeliat sosoknya saat itu. Sosok seorang kakak yang selama ini aku idam-idamkan, terang aja, karena aku ga punya kakak, yang ada cuma kakak berjenis laki-laki dan aku memanggilnya abang.

Kak di, sebut saja begitu. Cara yang unik saat aku menghapal namanya. Pernah suatu ketika, aku sama si I lagi duduk di bangku panjang di depan jurusan dan kemudian kak di menghampiri kami. Sekedar bertanya kabar dan basa basi, dia pun berlalu. Baru beberapa langkah kak di mangkir dari hadapan, aku bertanya sama I, “eh, I, kakak yang tadi itu siapa namanya?”, “kamu gimana sih, perasaan pertayaannya udah ditanya berulang-ulang?”, jawab si I dengan keheranan. Yaaa..maklumlah, jaringan di kepala lagi lemot, makanya agak lola. Waktu I mengatakan nama si kakak tadi, langsung saja ku buka tas kemudian menyambar binder besar tempatku menumpahkan celotehan yang diberikan dosen. Buka halaman paling belakang, dan ku tuliskan, “Kak di = Teknik Informatika”. Waktu sadar dengan tingkahku, si I Cuma bisa geleng-geleng. Haha..memang salah satu kelemahanku adalah cepat pelupa, makanya suka bawa note book atau kertas buat nulis sesuatu yang ku yakin pasti akan cepat minggat dari ingatan.

Dari acara yang dibuat sama kakak-kakak tadi aku memulai tarbiyah. Aku dikenalkan dengan dakwah. Meski jalanku masih merangkak, tapi semangat itu selalu membara. Tak seperti sekarang yang, ah.. ampuni aku ya Allah, jika aku tak sekuat dulu.

Kak di yang selalu menginspirasi ku, sosok keibuan, kakak, dan sahabat yang ku rasakan ketika aku mengenalnya. Tapi, di balik sosok akhwat idaman yang ia punya, ada kebiasaan buruknya yang juga selalu menginspirasiku. Lompat dari lantai satu saat dia terkurung di fakultas sendirian dan seluruh orang telah pulang termasuk CS (Cleaning Servis, red) yang memegang kunci pernah dia lakukan, dan itu dilakukan dengan sadar. Padahal kan bisa nelpon CS atau nelpon siapa gitu untuk minta bantuan, tapi ya begitulah. Untung saja tulang punggungnya cuma retak karena waktu mendarat permukaannya agak miring dan karena itu, dia harus menggunakan korset selama 8 minggu kalau ga salah. Nabrak angkot yang lagi nganggur. Haha..angkot berhenti aja di tabrak, apalagi yang lagi jalan? Untung supirnya baik banget, malahan dibantu ngebawa si kakak ke tempat praktek dokter. Jatuh dari motor tanpa aba-aba. #Plakk.. mana ada jatuh pakai aba-aba? Maksudnya jatuh sendiri tanpa ada faktor x. emang sih waktu itu jalanan lagi licin setelah diguyur hujan dan diapun menggunakan motor metik yang remnya ada di tangan. Katanya sih waktu mau ngerem dia lupa kalo remnya ditangan –kebiasaan pakai motor manual- dan akhirnya motor pinjaman itupun ngelap jalan yang lagi basah. Dan yang terakhir, dompet tangannya di jambret waktu lagi mengendarai motor pinjaman juga. Waktu kami lagi jengung kak di, ada yang nyeletuk, “kakak ada-ada aja. Yang jatuhlah, yang lompatlah, yang nabrak angkot yang lagi parkirlah. Hobi baru kayanya”. Sontak kami yang ada di sana ngakak mendengar celotehan temanku itu. “kayanya ga shock lagi kalo dengar kakak jatuh”, lanjutnya😯 Hahh.. malang benar nasib mu kak. Semoga Allah mengikis dosa-dosa yang pernah terlakukan.

Ada lagi yang agak aneh darinya. “Kak di kalo ga pelupa, bukan kak di namanya” kata adik kak di. Iya, dia sering lupa tempat meletakkan barang. Sering putus di tengah jalan kalo lagi ngomong, layaknya di -CUUUTT..!- sama sutradara. Kemudian beralih ke topik lain. Agak ceroboh, dan yang jelas dia orangnya GOKIL. Dengan semua yang ia miliki, siapa orang di kampus yang tak mengenalinya? Meski agak telat dalam menyelesaikan studinya, tapi prestasi di luar sana tak dapat terbantahkan. Organisasi internal dan ekternal kampus ia geluti. TOP punya deh. Pernah saat aku tak sengaja mampir ke rumahnya dan bertemu dengan papa kak di, papanya bilang kalo kuliah anaknya diibaratkan kalau perjalanan Pekanbaru-Jawa si kakak singgah-singgah dulu ke Bengkulu, Palembang, ga langsung ke Jawa. “Ya itulah hebatnya dia pak, jadi tau seluruh tempat yang ia lewati”, kata ku.

Overall, kak di adalah kakak terbaik yang pernah singgah dalam hidupku😉 Dan sepertinya kini ia sedang menunggu pangeran bermobil putihnya. Semoga engkau mendapatkan apa yang kau damba kak. Semoga ia yang terbaik untukmu.

Pangeran, cepatlah dijemput kak di-nya, jangan buat ia menunggu lebih lama lagi..😉

Hari pertama ga apa-apalah ngegosip dikit..😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s