Gallery

Mau Ngampus atau Kondangan?

Setelah hampir 3 bulan ngeramin laporan TA di tempat persembunyiannya, baru tadi aku nyempatin ngasi laporan ke Perpustakaan Universitas sama ke Perpustakaan Fakultas. Sok sibuk. Haha

Waktu nyuri-nyuri waktu ngurus penyerahan laporan, teman seangkatanku ada yang minta dibantuin ngerjain TA nya. Berhubung saya orangnya baik hati, tidak sumbing, dan jarang menabung😀 akhirnya si teman katanya dapat ide untuk ngelanjutin laporannya yang ga pernah dipegang lagi sejak libur lebaran kemarin. “Rasanya kaya ada lampu yang nyala di kepala –tuing-tuing—, terimakasih Tum Peng”😆

Janjiannya jam 10an, tapi karena kelamaan ngantri di bank untuk bayar PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) –warga teladan, taat pajak—jadinya sekitar jam 11 baru bisa ketemu sama teman yang minta dibantuin TA nya tadi. Kita janjiannya di perpus a.k.a perpustakaan. Dan karena jam 12 itu jamnya istirahat, jadinya harus nge-pause ide-ide brilyan untuk dituangkan dilaporannya nanti. Karena waktu dzuhur udah dekat, jadi kita mutusin untuk sholat lanjut makan, terus nungguin pustakanya buka lagi.

Waktu lagi di toilet ada 2 orang cewek –ya jelas cewek dong, toiletnyakan bertuliskan “toilet CoWek” (kerjaan orang iseng yang artinya toilet untuk cowok boleh, cewek juga boleh), tapi sebenarnya ini toilet cewek—yang sepertinya mahasiswa baru, keliatan dari casingnya. Rasa-rasanya dulu waktu aku masih jadi maba a.k.a mahasiswa baru, tampangnya culun banget, kebukti sama foto-foto yang masih tersimpan rapi di laptop.😆 Tapi, mereka ini beda. Yang satu awalnya makai jilbab model anak kampus kebanyakan, yang cuma diselempangin ke kiri dan ke kanan. Dan yang satu lagi modenya kaya “hijabers masa kini” plus dengan high heel-nya. Waktu teman yang satu ngebenerin jilbabnya, si emak bilang bilang, “Ya ampuuun, kok cuma pakai jarum sih? Pakai aksesoris dikit napa?” sambil nyamber kipas kayu yang biasa dipakai emak-emak ke kondangan terus ngaca. “Naah, naik gini kan bagus tuh jilbabnya, keliatan tu model bajunya” (baju yang dipakai si temannya ini model baju syahroni), kata si emak-emak waktu ngerapiin jilbab si teman. Ampuun dah. Waktu anak-anak rombongan lain masuk ke toilet COWEK, ada yang bilang ke si emak-emak, “Waaah, makin ribet aja ya jilbabnya”. Aduuh.. plis deh, ini tuh kampus, bukan walimahan. Coba deh liat sikon untuk bermode ria. Agak labay ngeliatnya kalau tampilannya kaya gini.

Hijab (dalam artian jilbab) yang seharusnya menjadi proteksi diri dari gangguan plus supaya kita lebih mudah dikenali karena bada dari yang non muslim, sekarang udah banyak menyimpang dari aturan awalnya. Coba kita deh kita liat di surat cinta yang Allah kasi di surat Al-Ahzab:59 yang menyebutkan:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Allah yang nyuruh lho. Emang sih, jilbab bukan patokan untuk menilai baik atau tidaknya seseorang. Mungkin mereka yang jilbabnya masih sepotong-sepotong lebih Allah senangi daripada mereka yang jilbabnya lebar. Karena penglihatan kita sama Allah beda. Dia selalu tau apapun, meski kata tak sempat terucap. Tapi, alangkah baiknya kalau kita berusaha memperbaiki diri, mengikuti pedoman yang ada? Ga ada yang Allah sia-siakan dalam penciptaanNya.

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada mereka yang belum tersentuh oleh kasih sayangNya dan selalu mengistiqomahkan mereka dalam pengabdian kepadaNya. Aamiin..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s