Gallery

Preman VS Bencong

Judul aslinya Preman vs Pocong. Tapi, ngerasa ada ikatan batin apa antara preman sama bencong, jadinya judulnya diubah dikit.

Cerita ini di angkat dari kisah nyata seseorang yang pernah menggunakan tali pocong sebagai jimat agar kebal dan sukses menjalankan kejahatannya,dia datang ke seorang dukun hanya karena ingin memiliki Ilmu hitam yang di anggap sesat oleh masyarakat sekitarnya. Dengan segala cara dia berusaha memenuhi syarat dari sang dukun bahkan h
ingga harus mencuri tali pocong dari kuburan

Khusus orang yang mati kecelakaan di Jum’at kliwon. Hanya saja, agar tidak membosankan pembaca maka cerita ini dikemas sedemikian rupa hingga menjadi Cerita Misteri yang merakyat. Jika ada kesamaan nama tokoh, Kami selaku si PENGKPOY PASTE memohon maaf yang sebesar-besarnya.

****

SIMAK PELAN-PELAN YA…!!!

Keringat menetes deras di tubuh, tapi gue harus terus menggali. Gue ayunkan cangkul semakin dalam. Usaha keras gue membuahkan hasil juga…

Cangkul yang gue pegang serasa membentur papan penutup mayat. Lalu dengan sisa-sisa tenaga yang ada, gue nglanjutin penggalian dengan kedua tangan.

Berhasil, galian telah nyampe dasar. Bau kurang sedap menyebar, reflek gue nutup hidung.

Mayat perempuan di dalam kubur itu masih baru. Badannya masih terbungkus rapi kain kafan. Kedua bola mata dan mulutnya tertutup kapas. Gue begidik ngeri, tapi kepalang tanggung … tujuan gue sudah hampir berhasil. Rasanya menggigil melihat rupa mayat di hadapan gue, bulu kuduk meremang. Hanya dengan hitungan menit gue berhasil mengambil tali pocong mayat tersebut dengan gigi gue. Sedikit tersenyum menang, buru-buru gue uruk lagi galian itu seperti sebelumnya agar tidak di curigai penduduk jika makam itu baru saja gue bongkar, Setelah itu gue kabur ninggalin area pekuburan.

Nasib tak perlu di sesali, sepatutnya yang di sesali adalah kenapa gue harus terjebak di dunia perpremanan? Padahal bisa saja gue bernasib seperti Rafli, si Tora Sudiro bahkan seberuntung si Christian Ronaldo atau apa mereka aja yang kurang seberuntung nasib gue? semua itu karena kekejaman Ibukota, kota yang menurut orangorang di kampung gue adalah tempat yang bisa jadi sumber mata pencaharian.

Dengan bermodalkan uang 1juta hasil tabungan gue dan alamat sahabat, gue memberanikan diri mengadu nasib di Jakarta. Gue memang punya teman satu kampung yang sudah sukses duluan di kota megapolitan itu. Tapi karena kecopetan, gue harus kehilangan dompet beserta duitnya plus alamat sahabat gue di Jakarta. Karena kekejaman copetpun, kini gue harus terjebak di sarang preman. Kerjaan gue pun bukan hanya malak tapi juga ketularan nyopet dan nyuri sehari-hari.

Jujur, gue juga pingin jadi preman yang paling di takutin. Tapi udah ngejingkrak-jingkrak kalap tetep aja orang-orang nggak pada takut ke gue, justru gue yang takut sama orang kampung. Takut di gampar dan di gebukin. Nah, trus dimana letak nyali gue? dan untuk deretan-deratan kalimat ini, kayaknya gue nggak pantes nyebutin diri gue dengan kata “Gue”.

Bos Jono bilang, cara pengucapan gue masih terlalu medok, alias kurang sangar. Maklum gue memang dari kampung. Tapi cuek aja, gue lebih pede dengan menyebut diri sendiri

“Gue “

ketimbang …

“Elu “

Terobsesi dengan kehebatan, terpaksa gue pulang kampung dan melakukan ritual bodoh yang ujung-ujungnya menyengsarakan siang malam gue. Gue datengin seorang dukun Ilmu Hitam yang paling terkenal di desa gue. Sehari setelah ritual yang gue lakukan, orang kampung di desa gue pada heboh. Kabar burung tentang kemunculan hantu Saropah ( Mayat yang tali pocongnya gue curi ) mulai nyampe ke telinga gue. Pertama gue cuek-cuek aja, toh selama ini Saropah nggak pernah nampakin batang pocongnya dihadapan gue.

Dan ternyata dugaan gue meleset jauh, Saropah tak hanya menampakkan batang pocongnya tapi dia ngebawa lengkap moncongnya yang masih tertutup kapas plus busana kafannya.

Gue masih ingat, hari itu tepat malam jum’at. Waktu itu gue lagi tiduran di balai-balai bambu yang ada di teras rumah gue. Udara dingin dan hawa sejuk pepohonan sedikit melenakan kantuk yang sedari tadi gue tahan. Terlalu sore bagi gue karena waktu masih nunjukin pukul 20.45 wib. Tapi namanya desa, jam segitu penduduknya sudah pada ngorok di buai mimpi, kecuali orang-orang yang sedang kebagian ngeronda. Sedang asyik2nya menikmati udara malam, tiba-tiba terdengar suara mencurigakan dari balik rerimbunan pohon bambu.

“Ssreekk … Ssreekk … krriieet…“

gue ngelirik rerimbunan bambu yang tak jauh dari tempat gue berbaring, sunyi suara tadi terhenti. Gue cuek, lalu nglanjutin acara tiduran yang sempat tertunda.

“Ssreekk … Ssreekk … Kririieet …..“

Aneh suara itu terdengar lagi. Sakit hati, gue berdiri trus nyamperin pohon bambu tsb. Gue pelototin mata, berusaha mencari tau suara apa yang barusan gue dengar.

Alhasil , kenyataan sungguh di luar dugaan. Gue ngelihat kain kafan terjuntai hingga ke tanah, ujung juntaiannya terikat rapat. Penasaran, gue dongakin muka semakin keatas … terus keatas … atasnya lagi … dan …

“Aaaaarrrggghhhhh … aaarrrggghhh ….maaakkkk … maaakkk … Saropah jadi permen maaaakk ” serasa dikejar seribu anjing buas, gue terbirit-birit lari nggak karuan. Gue baru berhenti pas finish kamar gue. Jangan ditanya kenapa gue ngeri, seumur-umur gue baru nglihat yang namanya permen di buntel pake kain kafan.

Lega gue bisa nyampe kamar dengan selamat. Dengan tubuh yang masih bergetar hebat, buru-buru gue nyungsep di kasur tak lupa gue tarik selimut. Sialnya, tuh selimut cuman bisa nutup dari ujung kepala mpe ujung lutut sementara lutut kebawah … gue nggak tau … apakah musti gue iket juga seperti milik si Saropah. Terpaksa dengan berat hati gue melungker. Gue pikir, dengan cara ini tingkat keamanan gue bisa terjamin.

Tapi ……

“Parmaaaaannnn ….. !!“ sayup-sayup terdengar suara perempuan memanggil-manggil nama gue

“Parmaaaannnn … kembalikan tali pocongku …“ suara itu terdengar sangat dekat, tak lagi sayup-sayup … tapi gue nutup kuping.

“Sialan nih pocong !! bisa2’nya dia malakin talinya yang dah gue curi, mang dia pikir gue nggak takut apa ?“

Badan gue semakin melungker, jangankan bergerak, ngeluarin anggota badan buat nepuk nyamuk yang nemplok di jidat aja, gue sama sekali nggak ada keberanian. Kupret bin apes, dalam kondisi memprihatinkan begitu ternyata air seni nggak bisa di ajak kompromi. Gue kebelet pipis. Butuh beberapa menit untuk memastikan keadaan aman.

Dengan sisa keberanian yang udah tersekat diujung tenggorokan, gue ngintip dari balik selimut. Mata gue berputar-putar menyapu pojok-pojok kamar. Sepi, kosong dan hening, yang nyaring terdengar di telinga hanya suara detik jam dinding. Tak ada tanda-tanda kehidupan dari makhluk lain, gue ngerasa lega. Gue harus cepet-cepet ke kamar mandi, pikir gue. Setengah mengendap, gue berjalan keluar kamar. Begitu gue buka tuh pintu…..

Alhamdulillah, tuh pocong dah stand by di depan kamar sambil meringis sadis ke arah gue.

Sukses gue pingsan dengan celana yang basah karena pipis.

Teror si Saropah tak hanya berhenti disitu. Gue semakin paranoid, dimanapun gue berada si pocong selalu setia show nunjukin keberadaannya. Pernah sewaktu gue kebagian tugas ngeronda, tanpa curiga sebelumnya gue ngegedor pintu rumah salah satu warga, hanya sekedar ngingetin bahwa gulingnya yang dijemur di pagar belum di masukin. Tapi alangkah kagetnya, belum lagi pemilik rumah nongol, tuh guling sudah nongol duluan sembari berdiri ngadep muka gue, kapas-kapas yang nempel di muka tu pocong yang nggak bisa gue lupain, sontak gue ambil langkah seribu tanpa ba … bi … bu apalagi manggil Emak.

Lama-lama gue stres karena hampir tiap malam gue main petak umpet ma tuh pocong. Keampuhan tali pocong lum nampak hasilnya tapi pemiliknya dah nagih-nagih mulu. Saking parnonya, gue mpe ngga bisa ngebedain jika ada orang tereak

“Cooooonnnggg …“ Karena ada bencong, Sama orang yang tereak

“Cooooooonggg …“ Karena bener-bener ngeliat hantu pocong, mengenaskan.

Karena nggak tahan, gue mutusin buat balik ke Jakarta secepatnya. Mungkin dengan begitu si pocong bakalan berhenti ngikutin gue. Pocong nggak bakalan bisa naik kereta karena tangannya nggak bisa megang tiket, Pocong nggak bakalan bisa naik angkot karena dia nggak bisa melambai, paling banter dia bakalan baring-baring di jalan biar angkot berhenti setelah roda-rodanya nabrakin dia lalu ngerem mendadak … Pocong nggak bakalan mikir, bahwa jika dia berbaring di jalanan … gundukannya nggak jauh beda ma polisi tidur. Hingga akhirnya gue nyadar, bahwa letak otak gue bukan di kepala tapi emang di dengkul.

Persiapan balik ke kota ….

Jangan pernah nanya bagaimana gue bisa jadi seorang preman, jujur semua karena terpaksa. kehidupan ibukota yang kejam buat gue nekad ambil jalan pintas. Kalau dilihat secara fisik, gue emang nggak pantes jadi preman di bandingkan sama Jono si bos preman, gue lebih tepat di sebut sebagai pelengkap preman. Bang Jono lebih sangar, mukanya terlihat bengis dan kejam, badannya gempal tinggi gede tapi buat gue lebih menakutkan hantunya si Saropah ketimbang mukanya bang Jono. Kemanapun bang Jono jalan, orang2 selalu memandang takut kearahnya. Sementara gue, nggak ada serem2nya sama sekali. Badan gue tinggi kerempeng, muka gue ganteng, kulit gue dikit bersih nggak item kelem dan rambut gue ala Olga.

Pernah gue nyoba jalan sesangar mungkin, badan gue tegep-tegepin, setegep mungkin. Perut gue busungin, sebusung mungkin. Terbukti, orang2 pada takut ngliat gue. Mereka nunduk tapi anehnya, mereka nunduk sambil senyum2. Usut punya usut mereka ketawa karena gue salah make sendal enyaknya Jono…

Itulah alasan kenapa gue harus balik ke kampung, gue harus punya jimat dan punya pegangan. Gue nyuri tali pocong, akibatnya gue harus berhadapan dengan si empunya tali ntu. Untuk menghindari teror, gue mutusin harus cepet2 balik ke kota. Selepas adzan maghrib gue kemasin semua baju-baju alakadarnya ke tas, tak lupa gue bawa kotak kecil tempat gue nyimpen tali pocong si Saropah. Setelah selesai semuanya, sambil ngabisin malam iseng2 gue ngelayap ke pos ronda. Nyampe di pos, orang2 yang kena giliran jaga kampung dah pada kumpul. Ada sekitar 4 orang yang kebagian jadwal malam hari itu. Hawa dingin serasa menusuk tulang. Untuk menghindari dingin, gue naikin sarung hingga sebatas bahu, lumayan sedikit menghangatkan.

“Tumben nongol Man,“ Sapa Udin salah satu pemuda desa.

“Sepi di rumah, emak dah tidur dari sore tadi,“ Jawab gue sekenanya.

“Mending disini, ntar di rumah sendirian malah di apelin hantunya si Saropah,“ Sahut Surip

“Ah, gue nggak takut sama yang namanya hantu. Takhayul tuh ,“ Pura-pura gue nggak tau menahu soal hantu si Saropah, padahal dalam hati gue ngedumel, tiap hari tuh hantu nemuin gue, nggak pakai acara janjian dulu.

“HalllaaaH… baru beberapa bulan di kota aja, dah ganti bahasa kamu Man, haaaahaaa,“ Zahir protes, Sementara gue melengos sebel.

Akhir kata mereka diem, gue juga diem. Yang terdengar cuman suara kodok yang bersahut-sahutan. Tiba-tiba angin berhembus kencang, dahan-dahan pohon bergoyang. Malam kian mencekam, gue semakin merapatkan sarung. Bayangan tentang pocong Saropah langsung melintas. Ah, tapi mana mungkin pocong itu berani nongol kalau lagi rame-rame begini, pikir gue dalam hati.

“Eh kita bertiga mau keliling dulu, Din ..!? Man, temenin Udin jaga pos ya!?“ kali ini Samsul berujar. Udin manggut-manggut mengizinkan. Jujur sebenernya gue nggak ikhlas di tinggalin berdua aja ma si Udin. Karna gue tau, Udin orangnya penakut.

“Hati-hati ada Saropah,“ goda Zahir, Udin melotot sedangkan
gue apalagi di pos tinggal gue sama Udin, malam semakin larut. Suasana semakin aneh, Udin merapat kearah gue.

“Kamu ngrasain sesuatu nggak Man ?“ kata Udin, gue menggeleng. Udin semakin merapat.

“Aku takut Man, mending aku ikutan mereka keliling,“ Celoteh Udin lagi.

“Lah trus gue sama siapa Din ? Lu diem aja disiñi !“ Protes gue teges. Untungnya Udin nurut. Sekian detik kami diem, tiba-tiba di bawah balai-balai pos ada kucing hitam. Gue curiga ma tuh kucing, ngapain malam-malam gini dia ikutan ngronda. Gue usir tuh kucing, tapi bukannya minggat, tuh kucing malah semakin mendekat kearah kaki gue. Sebel, gue sempar tuh kucing …

tapi aneh, tuh kucing jadi membesar. Semakin besar, semakin tinggi ….

“Po … pooo … pooocccooonnggg… hantuuuu … setannn … Zahiiirr, Suriiipp .. Satpollllll …. tolooonnngg,“ Seketika gue teriak-teriak nggak karuan. Udin terkaget-keget, lalu ikutan tereak kesetanan.

“Saa … Saarroopppaahhhh … Saropaah jadi pocoooonng,“ Udin melompat dari balai-balai, trus ambil langkah seribu. Gue pun ngikut jejak si Udin. Herannya, Sekenceng-kencengnya gue lari, Udin malah lebih kenceng. Suasana semakin heboh tatkala tuh pocong ngikutin gue. Udin paling depan, gue bareng pocongnya. Semakin gue bernapsu lari, tuh pocong malah semakin sejajar ma gue. Gue panik, bener-bener panik kali ini. Gue berusaha nyalip udin. Aneh, si Udin cepet banget, perasaan kaki gue lebih panjang ketimbang kaki Udin. Sementara badan Udin bulet gendut, diliat-liat bentuk body’nya nggak jauh beda ma buntelan sprei. Gue ketinggalan jauh dari si Udin. Padahal gue tau, larinya si Udin teramat membabi buta. Jatoh bangun dia terbirit-birit. Lari, gedebuk nyungsep, Berdiri lagi, nglanjutin lari trus jumpalitan bahkan mpe salto-salto segala …

Terakhir gue sempet liat si Udin nyebur got. Ntah gimana nasibnya lari dengan badan belepotan di penuhin lumpur got.

“Tunggu Diiiiinnn, jangan tinggalin gue,“ Sungguh gue panik, mana ada preman takut sama hantu. Nah loh, gue mulai berfikir normal. Benar, mana ada preman takut ma hantu pocong ? …. Reflek gue ngurangi kecepatan lari gue, emang dah seharusnya gue ngadepin hantu si Saropah … gue nggak boleh takut. Masih dengan nafas ngos-ngos’an, gue nyoba nata nyali … Lalu brenti. Gue berusaha nyari-nyari pocong tadi. Hilang, entah kemana pocong yang tadi ngikutin gue. Sementara si Udin … udah lenyap dari tadi saking ngerinya ketemu si Saropah.

“Kemana lu Cong ?“ Teriak gue nantang. Hening, nggak ada apa-apa di sekitaran gue.

“Lu nyari tali kan ?“ Tetep nggak ada jawaban. Aneh, kemana tuh pocong ? fikir gue, sampai 5 menit, tuh pocong nggak ada nongol. Heran, masa dia takut sama tampang gue ? Penasaran, gue langsung cabut. Tujuan gue kali ini harus ke Dukun tempat gue minta jimat.

Selang beberapa lama, akhirnya gue nyampe di tempat dukun itu. Rumahnya seram, agak berbau mistis. Takut-takut berani, gue ketuk pintunya. Tak lama keluarlah dukun yang gue maksud, sambil terbatuk-batuk tuh dukun mempersilahkan gue masuk dan duduk. Tanpa di kurangi dan di lebihi, gue bercerita panjang lebar tentang pocong si Saropah. Aki tua itu terkekek, sambil mengelus-ngelusjenggotnya yang panjang.

“Masih 3 hari kamu sudah di bikin repot. Padahal,ada 37 hari lagi yang belum kamu lewati,“ Gue mendelik kaget.

“HaaahhHH … total 41 hari gue mesti kena teror ma pemilik tali itu ki ?“ Dukun itu manggut-manggut, gue semakin shock.

“Sudah Ki, gue kapok. Mending gue balikin nih tali. Tolong kasih tau caranya Ki,“ gue betul-betul memelas kali ini, sumpah kapok gue. Janji nggak bakalan ngulangi perbuatan kayak gini. Lebih baik gue insap. Lagipula kejahatan apapun bentuknya nggak bakalan bikin gue tenang hidup. Gue harus nyari kerjaan lain yang lebih halal. Nggak perlu gue harus ngambil jalan pintas yang bisa-bisa nyelakain hidup gue sendiri. Setelah berfikir agak lama, untungnya dukun itu ngasih tau caranya ngembaliin tali pocong si Saropah. Lega campur nyesel, gue akhirnya balik pulang ke rumah. Rada tenang hati gue, mudah2an malam nih gue bisa tidur dengan nyenyak, Karena besok malam gue mesti nglaksanain ritual pengembalian tali si Saropah. Sudah hampir pagi saat gue baringkan badan di kasur kapuk kamar gue, sengaja gue matiin lampu berharap tidur gue kali ini lebih lelap …Guling mana guling… tangan gue meraba-raba mencari guling …

“Nah ini dia,“ Tangan gue berhasil nemuin guling. Tapi saat gue tarik tuh guling …..

“Aaaaaarrrrgggghhhhhh …. Saropaaaaaaaaaahhhhh lagiiii..“

Teror hantu si Saropah, bener-benar keterlaluan. Tanpa mengenal waktu, bahkan tempat. Itu yaπƍ bikin gue ngambil keputusan buat ngembaliin tali pocong miliknya. Dengan bantuan ki dukun, gue berniat nglakuin ritualnya. Gue sadar bahwa jalan sesat yaπƍ gue ambil ternyata menyengsarakan hidup gue.

Dingin angin, menusuk hingga menembus tulang. Gue nyeruput kopi sembari duduk di balai-balai bambu sederhana warisan bapak. Seperti hari-hari sebelumnya, gue nggak pernah lupa nyicipin singkong rebus bikinan emak. Malam ini gue ma Udin janjian mau ke rumah aki dukun. Sejak kejadian heboh 2 malam yang lalu, terpaksa dengan berat hati gue nyeritain ikhwal munculnya hantu si Saropah. Udin sempat nggak percaya, beruntung setelah gue jelasin jika gue mau insap, si Udin langsung manggut-manggutkagak ngerti.

“Man, kamu jadi nggak kerumah aki dukun ?“ Sapaan Udin tiba-tiba ngagetin lamunan gue. Pake ngegebuk punggung lagi. Pingin aja ngebales ngegebuk dia balik bukan di punggungnya, tapi tepat di jidatnya yaπƍ seluas pantat penggorengan

“Ya jadilah, masa’ gue mau terus2an di ikutin hantunya si Saropah ? emang gue cowok apa’an ?“ Jawab gue sedikit melengos.

“Ya udah sana, cepetan ganti sarung kamu ma celana yang rapi !“ Perintah Udin.

“Mang mau kondangan ? pake ganti baju rapi segala ?“ Omel gue sambil beringsut masuk ke dalam rumah.

Seperti yang di rencanakan sebelumnya, bedua kami menuju rumah ki dukun. Jarak antara rumah gue ma rumah tuh dukun lumayan jauh. Melewati hutan jati, sawah, semak belukar plus kuburan lengkap sudah. Sedang enak-enaknya jalan, dari kejauhan terlihat cahaya lampu motor. Semakin lama semakin dekat kearah gue. Pengendaranya berboncengan. Gue amat-amatin, sepertinya gue mengenal salah satu dari mereka.

“Eh, lu bang Jono kan ?“ Sapa gue sambil nyoba ngehentikan laju motor itu. Pengendara itu langsung brenti, ternyata betul dia Jono.

“Woeyyy Man, ketemu juga akhirnya lu. Gue dah dari tadi muter2 nyariin lu, untung ada tukang ojek yang tau tempat lu. Eh, lu-lu pada mau kemana nih? Kog jalan beduaan malam-malam gini,“ Ujar Jono sambil nepuk2 bahu gue.

Jono jauh-jauh datang dari Jakarta dengan harapan bisa nemuin ki dukun agar bisa ngasih dia jimat kebal. Polos, gue ceritain resikonya. Gue nyuruh Jono agar ngurungkan niatnya. Udinpun nggak lupa angkat bicara tentang munculnya pocong si Saropah. Beruntung Jono paham dan ngerti. Akhirnya karena terlanjur ke desa gue, si Jono maksa ngikut ke rumah ki dukun. Jono pingin dapet penjelasan langsung dari mulut ki dukun sendiri. Setelah ngenalin Jono ke Udin dan ngebayar ongkos ojek, bertiga kami langsung nglanjutin perjalanan. Suasana desa yang gelap betul-betul bikin bulu kuduk merinding.

Setengah perjalanan, kami ngelewatin kebun pisang dan bambu milik Zahir. Gue emang ngambil jalan pintas agar gue bisa cepet-cepet nyampe di tempat ki dukun.

Tiba-tiba ada sesuatu yang nabrakin gue …

“Brrruuaakkkk …“

Reflek gue lompat, Udin dan Jono berpelukan, saking kagetnya. Gue ngerti, mungkin Jono terbawa dengan cerita gue tentang pocong Saropah. Belum sempet ngliat apa yang nabrakin gue, tau-tau terdengar suara cekikikan.

“Xixixiixixiixiiiii … kikikikkkikikkikikikk …“ Pohon bambu yang tadinya berdiri gagah, langsung roboh begitu ngedenger suara itu. Tepat di hadapan kami betiga. Gue ngejingkrak kaget. Bulu kuduk gue merinding, Jono nyenggol-nyenggol tangan gue.

“Man, ada apa ? kenapa lu diem?“ Tanya Jono penasaran. Gue, mandeng Jono, trus mandeng Udin. Wajah gue serasa memucat. Dibawah remang-remang cahaya bulan, gue nglihat di belakang mereka ada pocong si Saropah. Muka tuh pocong merah menyala, matanya melotot kejam, nggak Åđӑ ekspresi belas kasihan sama sekali tapi yang gue heranin, kenapa Jono ma Udin nggak ngerasa sama sekali jika di belakang mereka ada buntelan pepesan ? yang gue bisa lakuin cuman ngasih bahasa isyarat tanpa bisa berkata-kata. Sumpah gue ngeri, gue shock, gue kaku, Nggak tahan sama pemandangan mengerikan, sontak gue ngasih aba2 ke mereka bedua …

“Laaa … laa … lari bangggg …“ Tancap kaki, gue kabur … Disusul Udin dan Jono ngikut lari tanpa tau âpâ sebabnya

“Jiiiaaaaahhhhh …… “Histeris mereka teriak bebarengan. Sekali lagi, si Udin lari paling kenceng … baris ke dua gue … lalu nyusul bang Jono … Entah si Saropah ngedudukin urutan ke berapa, gue nggak mau repot-repot mikirnya.

Setelah sekian meter kami berlari ….

“Berhenti dulu bang, Din… !!Gue capek banget .. Coba lu liat Din, si Saropah masih ngejar pa nggak ?“ Tanya gue sambil ngos-ngos’an.

“Kayaknya udah nggak, Man.“ Jawab si Udin.

“Memangnya lu dah nglihat ?“ Sahut Jono.

“Belum,“ Kata si Udin singkat. Gue ngejeduk kepala Udin sambil mendelik kalut. Tanpa sadar, gue berlari ke arah yang salah. Jalan yang gue lalui adalah jalan menuju pemakaman umum desa. Mau balik, gue takut si pocong nyanggong. Jono dan Udin pun kagak mau diajak muter lagi ke jalan tadi. Terpaksa gue ma mereka bedua mau nggak mau harus nglewatin jalan setapak makam yang menghubungkan ke jalan utama yang sebelumnya tadi kami lewatin.

“Hanya ada satu jalan untuk kita bisa keluar dan balik kerumah. kita lewat makan itu, “ Gue menunjuk kearah sebuah makam.

“Tapi Man, tuh makam tempat Saropah di kuburin,“ Udin begidik ngeri.

“Lah mending kan nglewatin rumahnya, si saropah kan lagi kelayapan di luar sono,“ Bentak gue ngasih alasan

Akhirnya Jono ma Udin setuju. Pas di depan makam, ada keraguan di hati gue. Takut bercampur ngeri nglihat kondisi makam yang gelap gulita. Segala macam bayangan berkecamuk di pikiran gue. Jangan-jangan si Kunthi nongol, jangan-jangan si gondoruwo lagi kebagian jadwal ngeronda, jangan-jangan pak RT yang kesurupan … (?!!)

“Woe, lu aja yang di depan Din,“ Kata gue ketus pada si Udin, sambil berpindah posisi dibelakang Jono. Udin mendelik, kepalanya menggeleng kuat.

“Bang Jono kan, ketua preman,“ Udin balik menuduh kearah Jono, giliran Jono yang mendelik sebel. Mau nggak mau, Jono harus nurut jalan paling depan. Dia pasti malu ma gue kalo sampe di tuduh penakut.

“Ok, gue duluan, lu paling ekor Din .. biar Parman ditengah. Lewat makam gini aja, masa’ kagak ada yang berani. Dasar kupret lu-lu pade,“ Jono berjalan pelan, kakinya mengendap-endap persis maling jemuran. Jarak 200 meter masih aman. 300meter nambah aman. Jalan kami tak lagi mengendap-endap kayak tadi, lebih nyante.

“Tuh kan, apa gue bilang? nih makam kagak ada angker-angkernya sama sekali, dasar mental kalian aja yang penakut. Kagak salah kalo gue jadi preman paling ditakutin di kota,“ Cerocos Jono memecah keheningan malam.

“Bukannya gue takut bang, kita cuman nyadar kalau pemimpin tuh tempatnya di depan. Ntar kalo ada apa-apa sama abang, kan kita bisa ngasih tau duluan,“ gue ngerayu.

Sekian menit berjalan, entah kenapa tiba-tiba bulu kuduk gue berdiri. Tiupan angin malam kian memperburuk suasana hati.

“Perasaan gue kok nggak enak ya bang ? nih pasti ada yang lagi ngamat-ngamatin kita. paling tidak penghuni makam ini,“ gue curhat.

“Banyak bacot lu ah, udah sono cepetan jalan. Masa preman takut ma setan? mpe segede gini gue kagak pernah takut ma yang namanya setan. Harusnya kalian niru sifat gue donk ,“ Nasehat Jono panjang lebar.

“Tapi beneran bang, aku juga ngrasa merinding,“ Timpal Udin meyakinkan.

“Diem lu pade,“ Bentak Jono nutupin ketakutannya. Kami diem, suasana hening sejenak. yang terdengar hanya suara langkah kaki kami yang menginjak ranting2 kering serta suara hewan malam.
Hingga…

“Man, brenti dulu !“ Suara Udin terdengar tegang.

“Mang ada apa Din ?“ Tanya Jono tanpa menoleh, gue pun nggak berani menoleh kearah Udin.

“Ada yang megangin bajuku,“ Kali ini suara Udin rada gemetaran, gue yang tadinya berani, reflek ikutan gemetaran.

“Lu tengokin sapa yang narik-narik baju lu Din.“ Perintah Jono masih tanpa menoleh.

“Abang aja yang nengokin.. .. aa .. aku taku,“ Semakin gemetar suara Udin.

“Bukannya lu bagian ngejagain ekor,“ Sahut Jono ngamuk.

“Parr .. parrman aja yang nengokin,“ Udin balik nyuruh gue, jujur gue mendelik kaget.

“Mang bang Jono takut ? Lu juga takut Din? apalagi gue ….siapa yang nyebarin fitnah kalo gue pemberani ?“ tanya gue nggak kalah frustasinya.

“Parmaaannnnn … tengokin,“ Gertak Jono dengan nada tinggi

Busyet rasa takut gue ke Jono ngalah-ngalahiin rasa takut gue ke setan.

“Iii …iiya bang,“ Gue nyerah. Perlahan, gue malingkan muka. Terpaksa gue nengok ke belakang dengan mata merem, seraya ngeluarin pertanyaan.

“Siapa disitu! Bencong apa pocong?“ Sekian detik taķ ada sahutan. Gelap, tak terlihat apa-apa. Hanya ađa suara-suara binatang malam di tengah kegelapan makam …

“Aaa .. Aaa .. Âpa’an itu,“ Masih dengan mata terpejam gue ngejerit histeris.

“Hwaaaaa…aahh laarriiii ….. “ Udin nambahin jeritan malam. Lalu ambil langkah seribu. Jono tak kalah kenceng jeritannya .. sama seperti Udin, dia langsung lari kesetanan

“Aaaaaaarrrggghhh … Hantuuu … Poccooonggg…“Jono kalang kabut, lari mpe nabrak-nabrak pohon beringin segala. Gue bingung, sedikit lambat gue lari. Harusnya gue yang kabur duluan. Karena gue yang nanya dan histeris. Perasaan, tadi gue belom lihat apapun. Saking kencengnya mereka lari di tengah kegelapan makam, kaki mereka sampai kesandung-sandung nisan. Jatoh, jumpalitan … jatoh lagi .. nyungsep… bangun lagi trus salto barengan dengan posisi saling bertumpukan. Gue yang lari paling belakangan, kaget ngliat kecelakaan beruntun itu, telat gue ngehindar. Ditambah lagi kaki gue yang nyandung ranting kering

“Brrruukkk … gedebuukk …“

Badan gue nyangsang diatas tumpukan badan mereka, empuk. Jono ngejerit hebat, Udin apalagi … Karena emang dia berada ditumpukan paling bawah.

“Hadoocchh sάkit !!… Buruan bangun, jangan kelamaan diatas badan gue,“ Pekik Jono kesakitan, gue pun lantas bangun.
Bang Jono ngebersihin debu2 yaπƍ nempel di bajunya akibat terjatoh tadi.

“Mang apa’an yang lu liat barusan, Man?“ Tanya Jono

“Iya, apa’an Man ?“ imbuh Udin

Gue ngerjap-ngerjapin mata berfikir sebentar…

“Gue liat mukanya si Udin.“ Jawab gue jujur

“Lah trus setannya di sebelah mana ?“ Jono penasaran, gue nundukin kepala lalu menggeleng kuat.

“Gue cuman ngliat mukanya si Udin bang, trus gue kira ada genderuwo di belakang gue.“

Buuuuggkkk …. muka gue langsung kena gampar bang Jono.

“Trus ngapain Udin tereak kenceng tadi ?“ Kali ini Jono nanya ke Udin.

“Łaķ kira yang narik bajuku Saropah bang, nggak taunya nyangkut di ranting pohon kamboja,“ Ujar Udin dengan mimik wajah ketakutan.

“Aarghh … bikin panik aja kalian,“ Gerutu Jono mangkel.
“Tapi abang kan tadi ikutan tereak,“ Protes gue geram.
“Iya,“ imbuh Udin membenarkan.
“Malah abang lari duluan,“ Protes gue rada sewot
“Iya,“ Sahut Udin lagi
“Katanya berani, tapi kaburnya…“ Gue ngelirik Udin, tanpa berani nerusin kalimat,
“Kaburnya kenapa haaah ?“ Desak Jono
“Kaburnya paling kenceng,“ Lanjut Udin tanpa rasa penyesalan.

“Guubbrraaakkk …“

Perjalanan ke rumah aki dukun yang seharusnya membutuhkan waktu sekitar setengah jam, harus kami lalui selama hampir 2 jam. Teror si Saropah serasa tak henti-hentinya.Bang Jono yang gue kira berani ternyata sama aja dengan si Udin, setali 3 pocong juga sama gue. Malam itu kami masih terjebak di TPU, jalan setapak yang menghubungkan ke jalan utama terasa begitu panjang dan jauh. Mata gue nyalang menyapu tiap sudut-sudut makam. Sesekali Udin mendahului jalan gue, sesekali merapat ke bang Jono. Kentara sekali kalo si Udin bener-bener ketakutan.

“Buruan Din, rada cepet jalannya“ Gue ngedorong badan Udin yang waktu itu jalan tepat di depan gue

” Lah situ kan yang punya hajat, Man. Aku kan cuman angka ikut ” tolak Udin halus

Gue lirik bang Jono yang sedari tadi tegang. Gue nyadar sebenernya muka bang Jono sangar, tapi kenapa gue kagak ada takut-takutnya sama sekali.

“Masih jauh kagak Man ?“ Tanya bang Jono.

“Bentar lagi juga nyampe bang,“ Jawab gue.

“Eh Man, gue kebelet kencing. Kira-kira si Saropah ngintip kagak ya ?“ Tanya Jono bego, gue mikir bentar … lalu ngegeleng.

“Ya udah. Lu tungguin gue!“ Bang Jono memilih tempat di dekat pohon beringin besar. Gue ma Udin nungguin dari kejauhan.

Tiba-tiba telinga gue ngedenger sesuatu. Gue tengokin muka ke belakang.

“Lu denger kagak Din,“ gue setengah berbisik kearah Udin.

“Ah, please dong. jangan nakut-nakutin aku Man,“ Rengek Udin seraya merapat kearah badan gue. Kami bedua tegang, sementara bang Jono belum juga balik. Gue pertajam pendengaran, beneran gue kagak salah …

“Parmaaaannnn … balikin tali pocongku,“ suara itu sangat gue kenal.

“Din, su .. suu .. suuaaraa itu Din,“ Badan gue menggigil.

“Suara apa’an sih Man ?“ Tanya Udin nyante. Kening gue mengkerut, heran masa’ telinga gue yang parno.Gue putar pandangan, super curiga gue liatin satu-persatu pohon di sekitaran gue. Tepat disalah satu pohon, pandangan gue brenti. Sekali lagi gue pertajam penglihatan gue. Ada perempuan berambut panjang yang lagi berayun di salah satu cabang pohon. Masih belum yakin, gue kerjap-kerjapinmata. Gue puter bola mata gue, keatas … kebawah … kekiri … kekanan …. finish ke tuh pohon. Alamak, perempuan berambut panjang itu sudah kagak ada di tempatnya … kemana perginya ?

“Parmaaaaannnn …. hihihihiiiii ….“ Suara itu kembali memanggil.

Badan gue menggigil, panas dingin. Gue lirik si Udin … masih ada di tempatnya. Ngejogrok tepat diatas nisan. Badannya yang bulet kayak buntelan terlihat seperti seonggok karung beras di mata gue. Gue semakin gelisah, kenapa Udin nyante … apa si Udin nggak denger ?. Gue kalut, grogi … panik, ditambah lagi bang Jono belum balik2. Perasaan udah hampir seperempat jam dia pamitan pipis. Jangan-jangan bang Jono kesasar, Jangan-jangan bang Jono di bawa kuntilanak , jangan-jangan bang Jono malakin penghuni kuburan sini ? …. otak gue semakin kacau. Tiba-tiba pandangan gue tertambat pada nisan yang di dudukin si Udin. Jantung gue berdetak semakin cepat, gue baca tulisan di nisan itu

~ Saropah binti Khambali, Jum’at kliwon ~

“Ddiiidd … ddiiinn …, lliiii … lliiaatt yang lu dudukin tuh Din ! “ Tangan gue nunjuk2 kearah nisan, Udin bengong.

“Ada apa sih kamu Man ? kog kayak orang kesurupan ?“ Udin masih belum nyadar.

“Iiitt .. ituuu yang lu dudukin, rumahnya si Saropah,“ Jelas gue dengan suara yang semakin berat dan gemetar. Kaget, Udin nengok ke nisan yang sedang dia tongkrongin. Beberapa menit Udin terdiam, lalu ….’

“Pooo … pppoooo …. ppppooooooooooo….cccoonnggg … mmmmmmmaaaaaakkkkkkkkk …“ Tunggang langgang Udin terbirit-birit.. kakinya yang pendek nyempar-nyemparnisan yang lain, gedebuk, jumpalitan gue liat larinya si Udin dari tempat gue terbengong-bengong, yaπƍ pasti dia gak nyungsep2 lagi atau nyebut got kayak malam2 kemaren. Agaknya si Udin udah terlatih lari dengan sendirinya. gue melongo, Perasaan, yang ada nisan si Saropah, kagak ada pocongnya ?. Hitungan detik, si Udin udah hilang dari pandangan mata gue. Ngilang, entah kemana. Tinggal gue sendirian di tengah makam seluas itu. Nyesel, kenapa tadi gue ngasih tau si Udin, kalo hasilnya dia bakalan ninggalin gue tanpa kata-kata perpisahan ? Apa yang musti gue lakukan sementara bang Jono juga belum kembali ?

Beruntung, sekian menit kemudian bang Jono datang. Sedikit lega, karena gue ngliat bang Jono kagak datang sendirian … ada Udin ngikut di belakangnya. Pasti saat lari tadi si Udin papasan ma bang Jono, lalu ngikut bang Jono balik buat ngejemput gue.

“Buruan Man, lanjutin jalan ! kagak nyangka si Udin setia, pake nyusul2 segala“ Ujar bang Jono, gue ngikut. Tak lama, gue ma kawan-kawan berhasil keluar dari areal makam tanpa ada gangguan yang berarti. Tapi gue heran … sepanjang perjalanan tadi gue nglihat si Udin diem terus, kepalanya terus-terusan menunduk dan memilih jalan paling belakang. Sama sekali kagak bersuara. Ada apa gerangan dengan Udin ?? … aneh.

“Lu kenapa Din ?“ Tanya gue penasaran, tapi Udin kagak ngejawab. Tetep diem, ngelirikpun kagak.

“Takut mungkin Man,“ Kali ini bang Jono yang ngejawab

“Tumben aneh sikapnya bang,“ Protes gue, bang Jono menghentikan langkahnya … lalu nengok kearah Udin.

“Buruan Din, lu jalannya lelet … !“ Bang Jono narik2 tangan Udin

Tapi ….

Kagak salah nih ? .. gue nglihat bukan Udin yang di tarik bang Jono. Gue ngucek-ngucek mata … berusaha memandang sekali lagi sosok yang ada di belakang bang Jono … hhhaaahh, beneran itu bukan Udin tapi seiket pocong. Agaknya bang Jono juga tau … bahwa itu bukan lagi Udin

“Haaaahh … Maaaann … si Udin jadi bencong Maaaannnnn ….. aaaaarrrggghhhh,“ Nggak nyadar, Jono salah nyebut. Gue baru tau ternyata bang Jono juga takut ma bencong … Gak nyangka. Semburat gue ma bang Jono kabur, lari nggak karuan … kami terpisah. Gue ke jalan utama … Bang Jono … balik masuk makam (??!!)

Alhamdulillah, dengan susah payah gue nyampe rumah. Gue kagak tau gimana nasib Udin dan bang Jono. Yang pasti keesokan harinya mereka bedua ditemuin pingsan di areal makam lalu di anterin pulang ke rumah gue.

Malam berikutnya …

Kejadian semalam ternyata nggak bikin bang Jono dan Udin kapok. Gue mpe terharu karena bang Jono masih mau bertahan tinggal di kampung gue. Kami sepakat untuk ngehadapin pocong si Saropah.

“Lu yakin bang ?“ Tanya gue rada ragu

“Man, gue emang preman … tapi gue preman yang punya perasaan. Gue tau kesulitan lu …“ kata bang Jono ngejelasin.

“Gimana dengan lu Din , masih mau ngebantuin si Parman ?“ Tanya bang Jono ke Udin, rada ragu2 Udin ngangguk. Gue semakin terharu, beruntung gue punya temen seperti mereka.
Pokok dari kesepakatan hari itu, kami akan menghadapi arwah si Saropah, gimanapun takutnya kami. Sore menjelang, sambil nongkrong di balai2 bambu, kami mikirin cara ngalahin pocong itu untuk sementara waktu, tanpa bantuan aki dukun.
Jono emang punya modal tampang pemberani. Badannya kekar, kumisnya kayak orang buyaran misbar. Mukanya rada ancur, kabarnya sih dulu pernah kegencet pintu saat Enyaknya ngamuk2 karena ulah Jono yaπƍ kelewatan saat ngamuk, Enyaknya nutup pintu tanpa tengok kanan, tengok kiri, tengok muka Jono dulu, yaπƍ lagi disandarin di sisi pintu. Alhasil, begitulah muka si Jono Remek. Bener2 keterlaluan kali kebandelan si Jono mpe Enyaknya kalap begitu.

“Eh, Man … Gue mau nyari rokok dulu bareng si Udin, kebetulan Udin juga mau ke warung,“ sapaan bang Jono ngagetin lamunan gue, hari mulai terlihat gelap.
“Jangan lama2 bang, gue kagak mau nunggu pocong Saropah ndirian“ rengek gue, Jono pun ngangguk. Tau-tau emak gue nongol dari dalam rumah, mungkin mau nitip sesuatu begitu ngedenger Udin akan ke warung.
“Emak nitip obat nyamuk bakar ya le“ bang Jono ngangguk lantas beranjak pergi. Sementara gue tetep duduk2 nyante di balai2 depan teras rumah.

Setengah jam kemudian, lagi asyik2nya nikmatin singkong rebus, datanglah si Udin dengan tergopoh-gopoh. Mimik mukanya tegang, pucat …Saking tergopohnya mpe kaki Udin kesrimpet-srimpet sarungnya yaπƍ sedikit kegedean.

” Man … Bang Jono … Bang Jono ngilang,“ Udin mencak2.
“Mang kenpa si Jono Din ? Obat nyamuk bakar titipanku nggak hancur kan Din ?“ Tanya Emak

Gue keselek singkong, Udin kesrimpet sarung, Emak yaπƍ mendelik. Nih Emak kog aneh, bukannya ngawatirin bang Jono, eeh malah ngawatirin obat nyamuk titipannya.

“Bang Jono ilang mak, di culik arwahnya si Saropah,“ Jelas Udin
Gue keselek lagi, Udin gak lagi kesrimpet sarung. Mungkin saking beribetnya, Udin terpaksa nglepas sarungnya tanpa sadar. Tinggal pake kolor doang
“Haaahhh,“ Emak kaget
“Heeeh, yaπƍ bener lu Din, “ Gue panik, Udin ngangguk
“Yuk … Din, sekalian kita cari bantuan pak Ustad,“ kata gue nggak sabaran
“Eeehh tunggu bentar,“ Emak ikutan panik
“Sekalian bawain puĬang obat nyamuk bakar pesanan Emak, ingat jangan nyampe ancur ya !“ Diiieeenggg …!!!

{ Asal usul – Saropah binti Khambali }

Nama gue Saropah, umur 24 tahun dan merupakan kembang desa di kampung. Kerjaan gue bantuin Emak jualan nasi di Warung. Tiap hari selalu ada aja laki-laki yang goda-godain gue. Bukan hanya di warung, di pasarpun banyak banget yang dengan senang hati ngebawain barang belanjaan gue atau bahkan nawarin nganter pulang mpe ke rumah. Nah dari situlah awal petaka yang menimpa hingga gue harus berada di dalam gelapnya liang lahat. Ada seseorang yang mau nyelakain gue dengan cara ghoib.

Berawal dari sering nongolnya seorang wanita cantik di tiap-tiap mimpi gue. Karena nganggep itu cuman bunganya tidur, maka gue cuek-cuek aja. Malam-malam berikutnya, dia hadir di dalam kehidupan nyata. Dia sering nongol gitu aja di kamar. Entah apa maksudnya nguntit gue. Yang gue tau, selama ini dia berwujud wanita cantik tapi saat berbalik, punggungnya nampak berlubang dengan banyak belatung di dalamnya. Bahkan belatung-belatung itu jatuh berceceran sepeninggal dia. Terakhir, gue ngliat dia duduk di bawah pohon beringin di jalan depan rumah dengan raut muka sedih, tepat di sampingnya ada seorang pria yang wajahnya sudah tidak asing lagi. Pemuda itu persis si Tarno, tetangga gue. Firasat kaga enakpun akhirnya terlintas. Pas malam sebelum kecelakaan, motor gue ngebonceng wanita cantik tersebut.

Sebenernya hati udah ngerasa khawatir waktu nglewatin depan rumah Tarno. Selain berdampingan dengan makam, gue ngelihat ada cahaya aneh yang berkelebat di atas atapnya. Tiba-tiba jarak 50m dari rumah Tarno, motor yang gue bawa terasa berat. Tarikan gasnya udah full tapi tetep aja lajunya kayak keong, merambat. Bulu tengkuk merinding, leher kaku kaga dapat nengok. Waktu itu tepat jam 21.25 wib tapi entah kenapa keadaan jalanan sepi banget. Jarak sekian menit motor gue di pepet 2 pengendara motor lain, gue ngira itu rampok atau begal … ternyata dugaan gue salah. Pengendara itu motong jalan gue karena mau ngasih tau kalo ada setan yang bonceng di belakang. Saat nengok, beneran ! Bola matanya pas bertatapan dengan mata gue, tajam, rambutnya gimbal panjang, baunya busuk bangkai. Sontak gue pacu motor sekencang-kencangnya tanpa nyadar. Alhasil motor yang gue kendarai masuk jurang sedalam 4 meter. Dari situlah kehidupan gue tamat. Dan mayat gue baru di ketemukan esok harinya. 3 hari setelah kematian, Parman nyolong kain kafan iketan pocong gue.

Siapa sih yang kaga takut ma namanya pocong ? hanya satu, dua orang aja yang pastinya bilang kaga takut. Nah, yang kaga takut itulah yang sekarang nge-Fans ma gue. Sebenernya sih, muka gue cakep, kemana-mana gue juga berkerudung kagak pernah ngumbar aurat. Baju gue selalu putih bersih nutupin kaki rapet. Saking rapetnya, kadang gue mpe kesrimpet-srimpet kalo lagi main polisi-polisianbareng Parman ma Udin. Keseringan sih mereka main curang, gue lompat dan terbang Sedangkan mereka serasa di kejar bencong, kadang juga Udin berlarian sembari lompat persis Kodok Bunting karena saking takutnya ketemu gue, Kebayang kan gimana ribetnya gue harus bisa ngedahuluin mereka ??.

Padahal gue jadi pocong bukan karena kehendak hati gue. Semua gara-gara Parman yang ketipu dukun sableng. Kaga ada niatan di hati gue buat ngejar-ngejar Parman. Lagipula wajah Parman juga butek, kaga ganteng-gantengamat. Fitnah, kalo ada yang bilang Pocong Saropah pingin minta tanda tangan Parman yang notabene sekarang jadi terkenal. Akibat ulah si Parman, gue jadi tau ma yang namanya si Udin. Cowok geblek yang rada-rada lemod. Badannya bulet, mirip buntelan karung beras, kulitnya item dekil, giginya kaga beraturan saling mendahului. Juga mengenal Jono, cowok keker item, berkumis tebal kayak orang buyaran misbar dan keseringan salah make sendal Enyaknya.

Pernah ada kejadian saat gue sowan ke rumah Parman buat ngambil tali pocong. Gue nongol ngedadak dari balik jendela, mata gue ngelirak-ngelirik persis maling jemuran. Bukannya Parman yang ada di rumah, gue justru nemuin Emaknya yang lagi bawa-bawa obat nyamuk sambil nyari-nyari korek. Waktu nyari korek itulah, mata Emak kaga sengaja ngliat gue yang berada di luar jendela. Gugup, gue berusaha ngehindar. Susah bin ribet, karena gue kaga bisa jongkok ataupun tiarap supaya gue bisa bersembunyi di balik jendela yang terbuka, bener-bener bingung apa yang harus gue lakuin dalam keadaan genting seperti itu. Naas, Emak sukses melototin gue. Blingsatan, gue ngilang tapi sebelum gue bener-bener balik ke alam gue, Emak sudah keburu nglempar pake susurnya yang udah lebih dari sejam di emutnya, sasaran tepat mengenai muka imut gue, bener-bener bau jengkol ( Kaga perlu rumit mikirin masuk akal apa kaga’nya ). Akhirnya gue kabur sambil berlompat-lompat ria, sesekali terbang kaga pake sayap, sesekali nyungsep. Pocong juga Pocong kan … kata Aditya.

Hari itu gue gagal nakut-nakutin Parman cs, malahan gue yang ketakutan ma Emak.

Tapi gue pantang menyerah. Malam berikutnya tanpa sengaja gue berpapasan ma Udin di sumur belakang rumahnya. Seperti sebelumnya, itu karung beras ketakutan luar biasa apalagi tanpa di temani si Parman. Matanya melotot, Reflek si Udin balik kanan mau kabur. Naas bin apes, belakang Udin tembok kamar mandi, jadi begitu balik kanan tuh buntelan sukses kejedot dinding.

Jeeddduukk … gue tertawa terpingkal-pingkal … Uuuupppssstttt. Emang nasib Udin kaga ada bagus-bagusnya.

Sebelum gue jadi pocong, semasa hidup, ada cerita dimana gue juga pernah di hantuin ma yang namanya Sundel Bolong. Eh kaga taunya sekarang dia malah berteman baik ma gue. Dia pula yang keseringan gue suruh buat ngehantuin Parman cs. Sewaktu di makam, temen gue sengaja nangkring di dahan pohon beringin. Badannya melayang-layangringan sambil tertawa cekikikan. Tak pelak lagi, Parman cs lari sekencang-kencangnya mpe kejungkel-jungkel saling bertindihan, saling menyalahkan dan saling mendahului.

Tapi di antara semua kejadian, gue paling kaga suka kalo Parman ma Udin main keroyokan. Pake bawa-bawa Pak RT ma Pak Ustad plus warga kampung. Jelas gue yang gantian harus tunggang langgang kagak karu-karuan. Jujur, sebenernya gue seneng ada manusia yang bersekutu dengan bangsa gue, tapi sebel aja karena cara yang di pilih Parman salah. Kenapa harus mau di suruh Aki dukun nyuri ?? harusnya kan Syaiton yang nyuruh-nyuruh manusia berbuat dosa ?? Lah ini malah kebalikannya, otomatis, gue kan ngerasa tersaingi ??

Gimanapun gue paling seneng kalo ngliat manusia macam Parman, Udin dan Jono yang sering ketakutan saat ketemu gue. Ada kebanggaan tersendiri jika gue bisa bikin mereka langsung pingsan dengan sukses. Padahal mereka para manusia punya kelebihan di banding gue.

Dipikir akal, gue kagak bisa nabok karena tangan musti keiket, gue kaga bisa guling-guling kecuali ada yang ngedorongin agar terguling lalu ngegelinding, gue kagak bisa ikutan lomba lari karena kaki keiket rapet. Tapi gue selalu PD jika ikutan turnamen lomba balap karung tingkat Rukun Setan. Sudah dipastikan gue juaranya.

Nah Udah tau kan siapa dan apa si Saropah ?? Tepat, gue adalah seiket Pocong yang paling di takutin Parman Cs.

Ceritanya diambil dari page fesbuk ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s