Gallery

Anak-anak itu..

Udah beberapa hari ga nulis, ngerasa ada yang beku, ada yang hilang gitu aja tanpa jejak. Ya..beberapa hari ini agak sibuk sama aktifitas baru, jadi instruktur di salah satu sekolah robotic di Jl. Cempedak, daerah nangka.

Mulanya, aku ditawari sama senior yang ngelola sekolah ini untuk menjadi instruktur. Mungkin karena beliau kasihan melihatku yang masih jadi Pengacara (pengangguran banyak acara) ini, haha..semoga aja ga gitu.😛 Jumlah instruktur yang ada di sana 3 orang, dengan background pendidikan yang ku rasa nyambung sama robot😀 2 orang lulusan D3, Mekatronika sama Elektonika kalau ga salah. Yang satu lagi yang punya sekolah jurusan Teknik Informatika, yang pastinya udah tau tentang robot ketika training di sekolah pusatnya di Jogja.

Sistem belajar di sini disesuaikan dengan kemampuan anak berdasarkan level. Untuk anak-anak TK diberikan satu dus alat yang terbuat dari kara dan sebuah buku panduan pembuatan robot. Kemarin sempat ku katakan sama seniorku itu, “ini mah mainan aini waktu kecil, bang”, si senior cuma “ter-Wooow..Wooow” dengan ucapanku tadi😆 Ternyata, orang tuaku hebat, mainanku dulu ternyata keren-keren. Sampai sekarang masih “dimainkan”, meski bentuk dan cara mainnya agak sedikit berbeda. Tapi yang jelas fungsinya sama, melatih otak kiri dan otak kakan anak. Menimbang apakah yang akan terjadi jika begini dan begini, melatih kesabaran, kreatifitas, imajinasi, dan disiplin. Untuk yang udah SD, SMP, SMA, atau yang udah kuliah levelnya beda lagi. Dan hasil yang dibuatpun bermacam ragam.

Sedikit ku ceritakan mainan yang pernah ku punya dan sepertinya sekarang mainannya masih tersimpan rapi di tempat persembunyiannya yang berdebu. Dulu aku punya 2 mainan dari kara yang salah satunya seperti yang ada di sekolah robot ini, berbentuk persegi dengan beberapa tonjolan bulat diatasnya, mengikuti panjang persegi. Permainan kara yang satu lagi berbentuk segi empat sama sisi dan di setiap sisi ada gambarnya. Di sisi atas berbentuk 4 buah segi empat, dan sisi bawahnya dibiarkan kosong, yang berfungsi untuk merekatkan antara segi empat yang satu dengan segi empat yang lain. Robot favorit yang sering aku dan si abang buat adalah robot Power Ranger –ngasi nama sendiri sih, karena robotnya mirip si ranger yang sering tayang di tivi waktu hari minggu—😀

Mainan lainnya ada pancingan ikan. Itu tuh, ikan-ikanan –masih terbuat dari kara— yang bentuk “kolamnya” bulat, mulut ikan-ikannya menghadap ke atas dan berputar searah jarum jam dengan menggunakan baterai AA 2 buah. Kalo ikannya naik ke atas karena putaran, mulutnya akan terbuka dan saat itulah kita mincing ikannya. Nyangkutin bundelan yang ada di pancingan ke gigi-gigi ikan yang berjejer rapi. Kalau mainnya rada emosian, mutar kolamnya pakai tangan ga pakai baterai, jadi bisa ngontrol kapan mulut si ikan mangapnya, jadi lebih gampang mancing ikannya. Haha..ada-ada saja.

Ada juga “gelang” –dari kara lagi— yang warna-warni. Kalau di diamkan, jarak antara putaran gelang yang satu dengan putaran yang lain akan nyatu, tapi kalau di lempar, gelang tadi akan merenggang. Bisa dibulatkan juga jadi rantai, terus disangkutin deh di leher, mirip orang-orang Gypsi.😛 Dan tahukah kamu? Saat SMA di jam pelajan fisika, aku mempelajari si gelang tadi, sifat dan cara kerjanya, plus rumus-rumus indahnya. Hah, kenapa isi kepalaku jongkok banget sama pelajaran yang satu ini? Ga ingat lagi rumusnya apaan.😦 Waktu aku bilangin ke guru yang sedang ngajar kalau aku punya mainan seperti yang beliau katakan, beliau ngizinin aku pulang buat ngambil mainan itu. Katanya si gelang udah susah nyarinya sekarang, udah mutar-mutar ke semua toko dan jawabannya nihil. Dan yang lucunya, si guru mau beli mainan si gelang ini.🙂

Dari tadi perasaan mainnya berbahan kara semua, Barbienya mana? Teddy bearnya mana? Poohnya mana? Dengan kata lain, BONEKANYA MANAAAA?? Haha.. ku beritahu satu hal, boneka pertama yang ku punya adalah si kuning, hadiah dari sahabat-sahabatku waktu semester 3 dulu, terus lanjut sama si hijau hadiah dari seorang sahabat di semester 5.

Jadi, mainanmu dulu apa? Kelereng, layangan, nangkap ikan di parit, patok lele, main kaleng (ga tau bahasa indonesianya apa, yang pasti cara mainnya kaleng di susun bertingkat, terus dilempar dengan kaleng yang diisi batu kerikil, kalau kena berarti orang selanjutnya yang akan melemparlah yang akan menjaga si kaleng, terus nyari-nyari teman yang lari tunggang-langgang😆 ), lupa nama mainannya, cuma cara mainnya hampir sama dengan main kaleng tadi yang berbahan dasar kayu, main tonggak dingin, main gambar (pernah beli mie instan pakai duit hasil dari jualan gambar yang waktu itu harga mienya cumu 250 perak, soalnya hari itu si abang menang, dan yang lain pada beli gambar buat dimainkan lagi😀 ), manjat pohon apapun yang berbuah (hehe, kalo yang ini biasanya cuma pohon jambu aja. Pernah suatu ketika jambu di halam depan berbuah dan buahnya yang masak arahnya agak ke pucuk. Ibu ngelarang aku manjat, tapi kalau ga bandel bukan aini namanya. Waktu manjat dan udah makan satu buah, waktu mau ngambil buah yang lainnya tiba-tiba aku hilang keseimbangan. Dan kalian tau apa yang ku lakukan? Masih stay cool kaya monyet. Bergelantungan😛 Tapi ga tahan juga, akhirnya aku teriak minta tolong. “BUUU..TOLOOOOOONG..!!” Ibu dan beberapa tetangga yang lagi ngumpul tak jauh dari tempatku memanjat tertawa cekikikan melihat nasib naas ku ini. Tanpa ada yang mau membantu. Huh..akhirnya lompat dari pohon), yang lainnya lupa. HAA?? Itukan mainan anak cowok semua? Emang masalah buat lo? *imah styl..😆

Ada kok yang mainan anak ceweknya, main alek-alekan (ga tau lagi bahasa indonesianya apa, main masak-masakanlah pokoknya, cuma mienya dari tumbuhan yang warna kuning yang sering ada dibonsai, kaya benalu tapi sepertinya bukan parasit. Kopi susunya dari tanah, duitnya dari daun rambutan, manga, atau jambu, ngitungnya blagu lagaknya orang kaya beneran😆 ), main lompat karet (dan lompatanku-lah yang teraneh, ga indah banget. Ah..sepertinya kalau yang pernah main karet tau gimana gaya seseorang yang ga jago ngelompatin karet itu. Sampai ada yang merdeka, terus kaki yang megang karet kaya belerina, berjingkat. Hah..permaian apa itu?) Oh ya, ada tuh mainnya rombongan, ngebentuk satu baris terus saling gandengan dan berhadap-hadapan. Nyanyinya gini, “kami orang kaya ya oma, ya opa” haha..

Lho, kok jadi bernostalGILA? Ya, begitulah cerita indah seorang anak kampung dengan masa kecilnya. Tapi sayangnya kini tak ada lagi terlihat anak-anak yang memainkannya. Seperti ditelan zaman. Kasihan, anak-anak lebih suka mainin gadged baru mereka, mamerin game seri terbaru di ipad mereka, mainin bebe yang aku sendiri ga punya, apalagi nyanyiannya, ga ada lagi Trio Kwek-kwek, Joshua. Semoga teknologi ga mengontrol mereka. Membodohkan anak bangsa. MERDEKAAA..!! Halah-halah bahasanya..😀

Ok, lanjut ke cerita sekolah robot tadi. Intinya, aku jatuh hati sama anak-anak. Dengan kepolosan mereka, polah laku mereka, kelucuan mereka, tingkah bandel mereka yang ngegemesin, imajinasi mereka, kreatifitas mereka, panggilan lembut mereka saat memanggilku “Ustazaa..aah, ini masangnya gini ya?”, “Miss, barangnya ga nemu!!” –sebenarnya agak-agak gimana gitu waktu dipanggil ustazah atau miss. Asing—, spontanitas mereka, kegantengan dan kecantikan mereka. *nah lho? Iya, lebih tepatnya unyu-unyu mereka. Berasa ingin punya anak beneran.😛

Semoga kalian menjadi anak-anak yang sholeh/sholeha, yang bisa ngebanggain orang tua, jadi orang-orang hebat dunia dan akhiratnya, dan membuat robot untuk kemaslahatan umat.

*cubit pipi sendiri, berasa masih unyu-unyu kaya mereka.😀

Udah, segitu aja dulu, yang baca sama yang nulis juga udah sama-sama capek sepertinya. To be continue yak..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s