Gallery

Syukur.. Ilmu Lama, Cerita Baru

Jam 10-an tadi seperti biasa ke kampus, ketemu dengan beberapa orang teman dan seorang sahabat yang telah lama tak bersua. Halah-halah bahasanya..😀

Tapi sebenarnya iya juga sih, udah jarang ketemu, jarang ngampus lagi. Sedangkan kalau ketemu sering diledekin teman-teman, “ngapain juga ke kampus lagi?”🙂 Sahabat yang satu ini katanya lagi sibuk tes di beberapa bank. Ada bank yang nanyain masalah ijazah, padahal yang ada baru SKL (Surat Kelulusan). Bak kata bapak, “jangan terlalu dipusingin masalah kerjaan, wisuda aja belum”, hehe.. yang namanya pengangguran tetap aja ga enak. Tes yang lain katanya udah sampai tahap wawancara. Sebelum wawancara ada tes tertulis, mungkin kaya tes TPA (Tes Potensi Akademik) gitu. Seorang dosen mengatakan tes seperti itu biasanya yang dinilai bukan benar salah kita, tapi kejujuran dan pola jawaban yang stabil. Ah, anak psikologi lebih ngerti masalah ginian.

“Pernah liat soal koran, ai?”, tanyanya. “Pernah dulu, waktu SMA”, jawabku. Wuuuss.. Memori di akhir sekolah kembali menguap seketika.

Dulu, waktu masih zamannya putih abu-abu, tepatnya di pertengahan kelas 3 aku dan 19 teman lainnya dari sekolah mengikuti tes yang diadakan oleh Pemda Kabupaten untuk mendapatkan beasiswa –full— di bebepa perguruan tinggi favorit. Sekitar 250-an orang bersaing untuk mendapatkan 50 kursi yang disediakan di perguruan tinggi yang dulunya diidam-idamkan.

Hari H.

Kami, 20 orang siswa dari sekolah dikumpulkan dalam satu kelas bersama beberapa siswa dari sekolah lain. Start sekitar jam 7.30 pagi dan selesai jam 6 sore lewat. Tes terDAHSYAT yang pernah ku ikuti. Hampir 12 jam duduk, membungkuk, ngerjain soal. Pagi-pagi disuguhi sama soal-soal TPA. Yang di suruh gambarlah, ngejawab soal-soal sinonim-antonim persis kaya dibuku-buku TPA kebanyakan, terus ada tes koran kaya yang ditanyain tadi (luas soalnya selebar koran bolak-balik, isinya deretan angka-angka yang harus dijumlahkan, berpindah dari kolom yang satu ke kolom yang lain dengan mendengar aba-aba PINDAH..!! Yang ngawas megang stopwatch dan peserta ga ada yang tau waktu yang mereka punya. Selesai ga selesai satu kolom, mesti pindah ke kolom yang lain). Soal-soal kaya gini berlanjut hingga sekitar jam 3 sore. Waktu istirahatnya cuma makan siang. Sholat? Ya pintar-pintar minta izin aja. Dan akhirnya, sebelum Sholat Ashar, kami disuguhi sama soal-soal yang ditunggu-tunggu. Wajahnya Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia aku lupa. Malahan ada yang essay. Yang jelas, setelah dari pagi pemanasan ngerjain soal, kenapa sesore ini baru dikasi soal ginian? Saat tenaga udah terkuras ngerjain soal-soal TPA.

Humm..keringat segede jagungpun keluar. Badan jadi panas dingin –meski cuacanya panas minta ampun—, telapak tangan basah, bahu pegel, tengkuk sakit, duduk ga tenang –jelas dong, seharian nempel di bangku—, pusing, mual. Dan sampai ada adegan MUNTAH. Ga cuma satu orang, tapi mungkin sekitar 4 orang. Haha.. kasihan mereka, eh aku juga ding.😆

Saat pengumpulan jawaban, beberapa teman pasrah nerima nasib. Lulus syukuuurr, ga juga ga apa-apa. Dan teman yang muntah tadi bilang ke pengawasnya gini, “Bu, kayanya saya ga bakalan bisa ke Bandung. Nitip pesan buat Ariel Peterpan ya bu”.😆 Pasrah banget.

Dan akhirnya. Dari 20 orang, hanya 10% yang lulus. Satu di ITB, satu lagi di IPB. Dan mereka adalah sahabat-sahabatku. Bangga, terharu, dan SEDIH jadi satu waktu salah satu guru mengumumkan kelulusan mereka selesai apel hari senin. Aku bangga punya sahabat seperti mereka, tak hanya pintar tapi juga rendah hati. Selalu nolongin teman yang kesulitan ngerjain PR. Pagi-pagi sebelum bel berbunyi selalu nungguin mereka kalau lagi ada tugas. Ada yang ngeliat untuk nyamain jawaban dan terkadang yang paling banyak ngerubungin buku mereka, nyontek masal.😆 Tapi apesnya, kalau mereka datangnya telat, ya PR nya dianggurin gitu aja, atau dibuat sebisanya.😀 #Jangan di tiru ya adik-adik..😉

Yah, rendah hatinya ga itu aja, masih banyak contohnya. Liat deh temen di kelas yang pintar tapi ga pelit ilmu, nah mereka ini mirip kaya gitu. Tau kan?😉

Eh, tapi kenapa sedih mereka lulus?

Jadi gini, waktu pulang les dari sekolah, waktu lagi jalan di depan masjid raya, waktu arah rumah kami akan beebeda haluan. Kami janjian bakalan kuliah di satu kota yang sama –berharap lulus tes beasiswa dari pemda tadi—. Tapi, takdir berkehendak lain. Cuma 2 dari 3 yang ke sana.😦

Keinginan untuk kuliah di kota kembang tak hanya sampai di situ. Jalur PBUD pun pernah ku coba, tapi ga ada balasan apa-apa dari mereka. Dan akhirnya aku mematut-matut diri, mungkin bukan di sana tempatku. Ada tempat lain yang disediakan Allah untukku, tempat yang terbaik untukku.

Akhirnya aku masuk di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di kotaku. Awalnya aku minder dengan beberapa orang teman yang kuliah di Pulau Jawa sana. Entah kenapa, menganggap disanalah tempat terkeren untuk kuliah. Tapi, ternyata penilaianku selama ini salah. Aku diluluskan di PTN ini karena Ia ingin mempertemukanku dengan orang-orang luar biasa, dengan tarbiyah. Aku tak tau apa jadinya jika aku lulus di tempat yang ku anggap keren tadi. Mungkin saja aku melebur, hancur tergerus pergaulan di sana. Hingga semester 3 aku masih sering merasa “tak terlihat” saat berkunjung ke sekolah. (Kebiasaan kami dulu waktu masih kuliah, setiap pulang pasti ngumpul di sekolah buat silaturahim sama guru-guru, sama kantin yang udah merekam jejak-jejak bandel kami😀 ). Tapi, setelah merenung, sebenarnya aku lebih menang dibandingkan mereka yang kuliah di tempat keren tadi. Aku dikenalkan dengan tarbiyah. “TARBIYAH BUKANLAH SEGALA-GALANYA. TAPI SEGALANYA DIMULAI DARI TARBIYAH”. Kata-kata itulah yang kemudian menguatkanku, yang membangkitkanku lagi, hingga berniat untuk mendapatkan yang terbaik. Dan akhirnya ku buktikan hahwa aku memang LEBIH MENANG dibandingkan mereka. Terbayar lunas minderku selama ini. Orang-orang hebat yang ku temui di sini jauh lebih berharga dari tempat keren tadi. Tak akan ada yang bisa menandingi mereka.

Alhamdulillah..

Terimakasih ya Robb, melalui mereka Engkau bukakan pintu hatiku dan melihatkan bahwa aku ini bukanlah siapa-siapa. Yang hanya merengek bahkan berontak saat harapan tak sesuai dengan kanyataan. Padahal dalam kecewaku, rajutan indah telah siap untuk Engkau hadirkan dalam hidupku. Maafkan kami yang tak pandai bersyukur dengan cara yang Kau beri. Jadikanlah kami makhluk yang senantiasa bisa bersyukur akan skenarioMu. Aamiin..


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

2 thoughts on “Syukur.. Ilmu Lama, Cerita Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s