Gallery

Posisi Duduk Menentukan Nilai. Benarkah?

Tadi pagi, sebelum praktikum dimulai, seorang dosen cantik minta tolong untuk ngejagain mahasiswanya yang lagi kuis. Karena, bu dos nya ada keperluan sebentar. “Waktunya sampai jam 09.20 ya, Ai”, kata bu dos sebelum ninggalin ruangan.

Sekitar setengah jam berlalu, aku mulai mondar-mandir ngeliat contekan. #eh? Ga ding, cuma ngeliat hasil kerja mereka dan langsung ke bangku paling belakang, cari tempat pewe untuk jadi hunter.😀

Sepertinya mahasiswa lahap banget ngajawab soal, ruangan masih tetap adem ayem tentrem. Yang ada cuma bunyi gorden yang saling bersinggungan terkena hembusan angin dari AC yang dingin buanget. Kaca jendela aja sampai berembun waktu lagi ngintip ke luar, ngeliat pembangunan gedung baru. Mungkin dinginnya jadi double atau triple karena diguyur hujan tadi malam, jadi hawa dingin pagi bercampur dengan hawa hujan tadi malam dan AC yang super dingin itu.

Waktu memutar pandangan kea rah jam 7, ada mahasiswa yang nempelin kertas di LCD kompi di hadapannya, yang bertuliskan DINGIN. Tapi akunya tetap seperti semula, stay cool, menyilangkan tangan, kedinginan.😀

Ujian. Pasti setiap orang geregetan saat mendengar kata yang satu ini. Bagaimanapun bentuk ekspresinya. Ada yang biasa aja, mungkin karena menggap mampu menghadapinya. Tapi, jangan terlalu membanggakan kemampuan yang dimiliki. Kerena, entah karena terlalu menyepelekan atau lebih tepatnya mungkin sombong sama kemampuan, bisa jadi wakatu soal udah di depan mata, semuanya buyar. Hilang entah kemana. Ga percaya? Buktiin aja. Soalnya pernah hampir dapat “Coklat” di KHS (Kartu Hasil Studi) gara-gara hal ini. Astaghfirullah.. Ampuni kami ya Robb. Tak ada yang bisa disobongkan dari ilmu yang hanya secuil ini.

Dan golongan yang kedua adalah orang yang sering ber”hah..hah..” ria. Katemu soalnya aja belum udah ngeluh duluan. “Buu..minggu depannya aja ya kita ujiannya”, pekik hati yang tak rela. Padahal tak ada bedanya mau ujian besok atau lusa. Emang ada jaminan kalau ujiannya ditunda bakal belajar lebih giat? Buka slide yang dikasi sama dosen? Googling? Browsing? Paling banter buka fb, twitter, atau malah ngeblog. #Eh?😛 Yang ada bakalan bakar kopekan plus menyan terus diminum buat jimat.😆

Kalau hari biasa 20 menit sebelum bubar baru masuk ke kelas. Kalau lagi ujian, berubah total jadi anak paling rajin sekampus. 20 menit menjelang ujian udah duduk rapi di dalam kelas, atau paling ga sibuk nanyain teman yang dianggap mampu untuk berbagi. Sedekah kali dibagi.😀 Kalau udah ketemu sama si teman langsung nge-booking buat duduk sebelahan. Yakin bener si teman bakal dapat 100. Kalau dapat angka yang nol nya dibuang satu gimana? Plus nilainya dibagi dua karena ketahuan “berbagi”. Sering nanya-nanya ke teman sebelah, setiap ditanya katanya belum siap. Tapi malah dia yang ngumpulin paling awal. #Nah lo? Ga yakin sama jawaban sendiri yang sebenarnya benar, tapi karena ngeliat yang sebelah beda, dicoret habis tuh kertas. Akhirnya nangis sendirikan?😆 Nyari tempat duduk paling belakang, berharap dapat leluasa nyontek. Tapi apes, duduknya dipindahin sama dosen.😆 Tempat duduk teraman dan teryaman itu ada di barisan paling depan. Bebas dari gangguan jin dibelakang yang melambai-lambai dan mungkin range kecurigaan nyontek oleh dosen hanya nol koma sekian persen.🙂

Mohon maaf sodara-sodara. Saya akui saya bukan orang suci yang tak pernah melakukannya. Tapi, setidaknya berejanjilah bahwa kebiasaan itu harus dibumi hanguskan. “Apa gunanya dapat IP tinggi kalau Allah ga ridho?”, kata seorang kakak. Iya, gimana Allah bisa ridho kalau cara ngedapatin nilainya kucing-kucingan sama pengawas? Tau kucingkan? Meong-meong mengiba waktu lagi ada orang, meleng dikit lauk diembat.

Percayalah, dapat nilai dari hasil kerja sendiri itu lebih hebat. Banggalah dengan hasil kepala sendiri. Meski mungkin ada sedikit “iri” sama teman yang nilainya lebih tinggi, tapi dapatnya hasil kucing-kucingan.

Percayalah, yang dinilai itu bukan hasil, tapi proses untuk mendapatkannya –terlepas dari siapa yang menilai atau bentuk penilaiannya—. Banggalah dengan kemampuan yang kita punya. Pernah bacakan kalau sebenarnya ga ada orang yang bodoh? Yang ada hanya kurang mau berbuat lebih, kalau bahasa kampung saya going the extra milies😀 atau mungkin yang dilakukan saat ini tak sesuai dengan bidangnya. Itu saja. Jadi berhentilah mengatakan dirimu bodoh, tak berguna. Bahkan nyamuk saja diciptakan dengan alasan dan manfaat yang jelas. Ekosistem.

Meski terkadang orang yang beruntung tak bisa dikalahkan oleh orang yang pintar, tapi percayalah dengan kemampuanmu sendiri..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s