Gallery

Damai itu Indah Jendral..!!

“Mama sayangnya sama B aja. Anak kesayangan mama emang cuma B, kan?”, suara seseorang yang sepertinya lagi agak ngambekan sama mamanya.

Jadi ingat beberapa waktu lalu, waktu masih jadi Tom & Jerry sama si abang. Waktu masih sering ngikutin si abang main tapi dimarahin, katanya ga boleh ikut. Alasannya itu bukan mainan buat anak perempuan. Waktu masih rebutan barang bawaan ibu dari pasar, nyari makanan atau buah-buahan. Waktu si abang sering usil ngeganggu adik sematawayangnya ini sampai nangis, terus ngadu ke ibu. Waktu berbagi roti gabin yang dicelupin ke susu sebelum berangkat sekolah. Waktu main sepeda sama-sama. Waktu belajar main pingpong di lantai dengan net dari balok kayu kira-kira setinggi 3 inci. Waktu marathon di pagi hari yang cekeran, selesai sholat shubuh.

Dulu, sering cemburu sama si abang yang di belikan ini dan itu, sedangkan aku ga dibelikan apa-apa. Terang saja, dia yang sekolahnya jauh dari rumah setelah tamat SMP harus hidup mandiri, ngurus dirinya sendiri di sana. Tentu lebih membutuhkan seseuatu yang memang ia perlukan. Dan aku masih bersama mereka (orang tua, red) yang serba mudah. Mau makan tinggal ambil di dapur, mau yang dingin-dingin tinggal ambil di kulkas, mau keluar ada kendaraan. Nah, si abang di sana yang ga ngerasain lagi fasilitas itu, pastinya butuh sesuatu untuk membantunya di sana. Dan ketika sesuatu itu dia dapatkan, ada rasa seperti di nomor duakan. “Abang dibelikan, kenapa aku ga? Ga adil”, begitu pikirku dulu.

Adil. Apakah adil jika ada dua potong ayam dan dua galas susu dibagi sama rata kalau si penerima bagian adalah seorang anak berumur 2 bulan dan anak berumur 5 tahun? Apakah adil jika mereka sama-sama dibelikan sepeda dengan bentuk dan ukuran yang sama? Apakah adil jika mereka diberikan mainan yang sama?

Bukankah adil itu menempatkan sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan si penerima? Sebenarnya si kakak tak perlu khawatir dengan perhatian yang dirasa memudar dari orang tua terhadap dirinya, toh sebelum adiknya lahir, dia telah mendapatkan perhatian itu. Begitupun si adik, tak perlu merasa terpinggirkan ketika si kakak mendapatkan sesuatu. Ada masanya dia akan mendapatkan hal yang sama.

Jadi ingat (lagi), saat si abang ngasi kabar kalau dia mau pulang, semua dipersiapkan. Mulai dari makanan sampai kamar. Dan pernah bilang gini ke ibu, “kenapa sih harus repot-repot gini?” Huu.. aini, tahukah kamu? Itulah bentuk kebahagiaan mereka untuk bertemu dengan buah hati mereka yang lama tak bersua. Dan sekarang, kamu juga mendapatkan perlakuan yang sama, bukan? Bahkan, ahh.. ai lop u pul..😀 indahnya menjadi bagian dari mereka dan punya abang yang super duper baik. Alhamdulillah..😉

Ketika orang-orang asik bercerita tentang prestasi dan kemampuannya, hati retak, hancur berkeping dua🙂 meresa kalau kita ga sebanding dengannya. Padahal, coba pinjam kuping saudara kita, dan dengarkan apa yang mereka bicarakan tentang kita, isinya juga sama. Mereka juga membanggakan kita dengan prestasi kita yang terlihat ataupun prestasi yang abstrak. Maksud abstrak di sini ga bisa dinilai dari segi fisik. Jadi anak yang sholeh, itu sudah sebuah prestasi luar biasa di mata mereka. Ga gampang kan mendididik manusia yang awalnya ga tau apa-apa menjadi apa-apa tau tentang agamanya?😀

Bukankah seharusnya kita juga bangga dengan prestasinya? Sejatinya kita sama di mata mereka, sama-sama anak kebanggaan mereka. Mungkin perberbedaannya hanya pada sisi “adil” tadi. Percayalah, tak ada maksud dari mereka untuk membeda-bedakan. Damai itu indah jendral..!!

5 thoughts on “Damai itu Indah Jendral..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s