Gallery

Pekanbaru-Pariaman-Pasaman

Kamis sore ditanya, “ai, siapa aja yang pergi?”

“belum tau kak. Ntar, ditanyain dulu sama yang lain”, jawabku

Dan saat mencari tau siapa yang akan pergi, atau rombongan mana saja yang pergi, katanya tak ada akhwat yang pergi. Mungkin karena minggu-minggu ini lagi musim ujian dan ada aktivitas lain bagi yang sudah bekerja, apalagi yang udah berkeluarga.

Saat malam menjelang, pada sibuk mencari orang yang bisa diajak untuk ikut. Setelah lama sms sana, sms sini, pada jam 11 malam terkumpullah 9 orang yang akan berangkat. Tapi, satu orang ngundurin diri, katanya ga jadi ikut karena kepenuhan kalau 9 orang. Oke, 8 orang.

Gelapun menyelimuti ku malam itu.

Pagi harinya, ternyata ada masalah. 3 dari 8 orang, batal berangkat. Kalau dihitung, 5 orang untuk membiayai penyewaan mobil, isi bensin, dan bayar supir, tak sangguplah kami ini. Menjelang siang ada satu lagi yang mengundurkan diri. Haa? 4 orang? Mana sanggup.

Sekitar jam setengah dua absen pulang dan ke tempat si uni. Masih belum ada solusi untuk keberangkatan ini. Saya dan si uni memutuskan untuk pergi berdua dengan bus malam-malam (karena bus yang ada memang cuma malam) kalau tetap tak ada jalan keluar. Sebenarnya agak was-was ke sana dengan bus, malam-malam, dan tanpa tau kondisi tempat yang akan dituju. Akhirnya, pertolongan itu datangnya selalu di akhir, setelah segala usaha dilakukan. Kami mendapatkan mobil rental yang murah dan supir 2 orang yang ga perlu dibayar. Karena mereka juga sebenarnya mau berangkat dengan rombongan yang lain, tapi karena kepenuhan tempat, akhirnya Allah yang memberi jalan. Alhamdulillah, anggota yang berangkat tetap 5 orang dengan supir 2 orang. Perhitungan awal kita sum-sum 100an ribu per orang.

Rencananya berangkat ba’da maghrib, karena rencana sampai kembali di Pekanbaru juga ba’da mahrib. Jadi cuma ngerental mobil satu hari.

Packing-pun dimulai.

Ba’da maghrib, setelah semuanya berkumpul, ternyata masih belum bisa berangkat karena keadaan yang tak memenungkinkan. Dan jam 11.45 pm mobilpun berjalan dengan diiringi dengan mobil yang lain, rombongan.

Di jalan, Kak M yang mabuk darat melancarkan aksinya. Baru satu jam perjalanan, diapun mengeluarkan isi perutnya. Saya yang membuka plastik pertamanya, dan ternyata plastiknya bocor. Yaiiikk.. Setiap kali melancarkan aksinya, saya urut pundak dan lehernya. Si uni pun ikut-ikutan, dia yang tak tahan dengan hawa dingin langsung muntah. Jadilah saya tukang urut langsung dua pelanggan sekaligus, kiri dan kanan. Dan yang parahnya lagi, plastik yang saya kasi ke uni juga bocor (emang dari pabriknya yang bocor), selimut yang menemani kita dari perjalanan awal hingga kini akhirnya tewas terkana senjata pemusnah masal buatannya. Haha

Setelah melalui malam yang mengerikan (dengan aroma mobil yang terkena senjata pemusnah masal) selama lebih kurang 7 jam, kamipun sarapan. Dan menunggu mempelai pria siap-siap karena acara pestanya masih 2 jam lagi dari sini, Pariaman. Butuh waktu satu setengah jam untuk menggerakkan mobil menuju Pasaman, lokasi pesta.

8 kilo dari lokasi, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah bengkel. Dan menurut teman yang menjadi supir bilang, kalau kampas gas atau koplingnya udah tipis (kalau ga salah) dan mengeluarkan bau, kalau dipaksa, mobil bisa ga jalan nantinya. Kata orang yang punya bengkel, harga sparepart-nya 250 ribu dan ongkos pemasangan 200 ribu. Total 450 ribu. Setelah didiskusikan dengan pemilik mobil, beliau bilang akan menanggung pembayaran kerusakan dengan bukti kwitansi. Pemasangan membutuhkan waktu 1 jam. Dan akhirnya kami beristirahat di dalam bengkel atau lebih tepatnya hunian pemilik bengkel. Akan tetapi, setelah teknisinya datang, katanya banyak yang harus diganti dengan total pembayaran 800 ribu. Jadinya perbaikan dibatalkan, bukan karena ga mau memperbaiki tapi karena adanya “pemalakan terselubung”. Setelah sholat zuhur, kami dijemput dengan mobil rombongan yang lain dan tibalah kami di lokasi pesta dengan tampang yang, ahh.. silahkan dibayangkan sendiri tampang orang yang tidur dengan posisi acak, tampang kusut belum mandi, tapi tetep kece. Hweek..

Kami tiba di sana sekitar jam satu siang dan tamu undangan yang lain udah ada yang datang. Sempat ga PD dengan tampang seperti ini, tapi ada yang bilang, “cantik itukan dari dalam”. Sebuah kalimat ajaib yang mengantarkan kami di tempat masuk lokasi pesta dan disambut hangat sama ibunya teman yang walimahan. Agak ga kuat waktu melihat orang-orang yang melihat tampang kami. Tapi, ya sudahlah, nasi sudah menjadi lontong, dimakan aja.

Buru-buru ketemu adiknya yang walimahan, kebetulan dia juga teman satu kampus dan langsung ke kamar untuk merapikan lagi tampang yang kusut. Dari 5 orang, kami mempersilahkan seorang kakak yang sepertinya memang butuh mendapatkan pertolongan pertama untuk mandi. Sembari menunggu, seorang teman yang datang bersamaan dengan adiknya teman yang walimahan bilang kalau di belakang rumah ada “batang aia”—minang, lebih tepatnya anak sungai. Airnya jernih dan mengalir. Hwaa.. pengen berenang rasanya (padahal ga bisa berenang sama sekali). Haha.. saya termasuk salah satu anak yang dibesarkan di dekat sungai tapi ga bisa berenang. Ya iya lah, bisa melayang senti jahit ibu kalau ketahuan. Saya kan anak baik, jadi nurut, dan ga bisa berenang sampai sekarang kecuali untuk gaya batu😆

Belum apa-apa, seorang kakak yang mabuk darat selama perjalanan tadi langsung nyebur dan berenang. Melihat itu, satu per satu kamipun menyeburkan diri, merasakan kesegaran air yang telah lama tak berjumpa. Melihat saya yang tak bisa berenang, membuat mereka tertawa dengan tingkah saya yang minta diajarin berenang, tapi kerangka yang mengajar tak sebesar yang diajar. Saya lebih besar dari kakak yang mau ngajarin berenang, baru dipegangin tangan terus menggerak-gerakkan kaki, langsung tenggelam dan terbawa arus. Ahh..nasib mu nak. Kalau gini caranya, berenang harus masuk salah satu list target cita-cita masa depan. #gubrakk..

Setelah semuanya naik karena merasa kedinginan, entah kenapa, saya malah ingin berlama-lama di sini. Meski seperti anak kecil yang ga dibelikan ice cream, saya tetap harus menyudahi ritual indah ini, karena kami tak bisa berlama-lama di sini. Jam 3 harus pulang lagi ke Pekanbaru. Dan akhirnya, setelah menunggu ini-itu, mempertimbangkan ini-itu, dan kembali pulang melewati ini-itu, Alhamdulillah jam 4 subuh kami menginjakkan kaki di Bumi Lancag Kuning ini dengan selamat.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s