Gallery

Silaturahim

Any way, kalau mau ngitung jumlah keluarga, apalagi dari pihak ibu, pasti butuh kerja ekstra. Buktinya, sampai sekarang pohon keluarganya bulum juga selesai dibuat dan bahkan, sebelum hierarki itu selesai, nambah lagi jumlahnya. Luarrr biasa. Kalau lagi ada acara kumpul keluarga yang biasanya diadakan saat libur lebaran, mesti pasang tenda saking banyaknya masa. Itupun yang datang baru sebagian.

Kalau mau ngitung (ada yang mau ngitung?) jumlah keluarga dari pihak bapak, emang ga sebanyak dari jumlah keluarga ibu, tapi lumayan untuk nambah kuota penduduk Indonesia yang katanya “sekitar” 250 juta. Ga tau deh berapa jumlahnya setelah adanya e-KTP.

Akhir Ramadhan kemarin, saya menyempatkan diri untuk ber-silatur-rahim ke tempat oom yang jaraknya tak begitu jauh, tapi baru kemarin itu bisa ke sana. Setelah sekian lama tak menginjakkan kaki di sana. Masih ingat, sepertinya waktu ke sana masih era-nya pesva. Itu tu, yang kaya motor meticnya zaman sekarang. Cuma katanya punya “gigi” di tangan, bukan di kaki kaya motor bebek atau manual. Nah lo? Pegimane ceritenye gigi nyangkut di tangan? Jangan salahkan bunda mengandung saudara-saudara, pahamilah saja maksudnya.😀

Kunjungan 3 hari yang singkat itu membuat kedekatan yang bebeda antara saya dan 2 orang adik sepupu –anaknya oom—. Kalau dulu hanya saling menyapa kalau abinya nelpon, tapi sekarang beda. Salah satu penyebabnya karena zamannya juga udah beda. Kalau dulu masih malu-malu kucing, sekarang sering malu-maluin.😀 Si kakak (selanjutnya disingkat dengan F) yang sudah hampir menamatkan sekolahnya di bangku SMA dan si adik (selanjutnya disingkat dengan R) yang juga akan menamatkan sekolahnya di SMP.

Satu hari penuh, saya dedikasikan hidup saya untuk mengenal daerah itu dengan pergi ke pasar membeli perlengkapan untuk pertempuran saat bedug berbunyi. Beli cat tembok (kan bentar lagi lebaran, jadi kulit tembok perlu perawatan). Sorenya keliling, kalau bahasa anak gahoel nya JJS (jalan-jalan surang)😀 Dan ternyata masih ada beberapa tempat yang belum saya kunjungi. Dengan perhitungan yang matang, saya memutuskan melihat-lihat sekolahnya si F dan si R yang berada di lingkungan industri yang punya disiplin ketat.

Keesokan harinya, satu jam sebelum dijemput sama travel, saya dan si F langsung ke TKP. Dan disinilah kekatrok-an saya terlihat. Baru sampai di gerbang penjagaan yang ada skuriti aja udah di stop. Nah, nama gerbang penjagaannyapun saya ga tau. Yap, itu dia (?), tuh kan bener, katrok!! (katrok kok bangga?😀 ) dan ternyata lampu motornya belum nyala. Sesampainya di perempatan ada lagi skuriti yang ngasi aba-aba belok apa ga. Jadinya berhenti bentar, setelah nunggu kendaraan lain lewat, saya yang hari itu jadi supir melanjutkan perjalanan. Tapi, di pertigaan jalan didepannya, lagi-lagi di stop sama skuriti, disuruh minggir (pengalaman pertama disuruh minggir saat bawa motor). Skuritinya ramah sih, cuma distopnya itu yang ga enak. Dengan senyum yang cetar membahana beliau nanya, “nurul ya?” tapi ngeliat ke arah F yang duduk di belakang. Saya bingung harus jawab apa. Haruskah saya membuka topeng saya selama ini? Padahal Dian Satropun ga saya kasi tau kalau saya pakai topeng. Kenapa skuriti ini tau nama saya? Sayakan udah nyembunyiin identitas? Tapi kok arah kepalanya bukan ke saya?? Toeng, ternyata skuritinya salah orang, hanya mirip. Katanya kami di stop karena ga ngikutin aba-aba dari skuriti sebelumnya –yang ada diperempatan pertama—. Haa..padahalkan udah berhenti, udah jadi pengendara yang mengikuti UUD 45. Tapi, ya..begitulah. satu lagi, kalau ada rambu-rambu yang dengan tulisan S dicoret di persimpangan, mau ada orang ataupun ga, kudu berhenti. Kalau ga ya dapat kartu kuning.

Lanjut..

Entah karena dorongan apa, mereka sering menanyakan pertanyaan yang seharusnya mudah untuk saya jawab, tapi terkadang tetap harus nanya sama Si Mbah untuk memastikan jawaban. Ga lucukan kalau ngasi jawaban yang salah? Atau dengan nada yang meragukan?

Kalau si F sering nanya masalah umum, misalnya, “kak, ukuran lapangan tenis meja berapa?”. Hal ini ia tanyakan sebelum ujian olahraga. Mungkin dia merasa saya yang dulunya atlit tenis meja tingkat RT ini masih ingat sama jawabannya.😀 Atau dia nanya siapa mentri kesehatan sekarang? Atau apalagi saya lupa.

Kalau si R sering nanya tentang Bahasa Arab. Padahal muka saya lebih mirip orang Turki daripada Arab (?). misalnya, “kak, uhibbuki fillah artinya apa?” atau “ahlan wa sahlan apaan kak?” atau “grup nasyid keren yang akhirannya pakai voice apa kak?”. Untuk pertanyaan terakhir, saya jawab seadanya, karena grup nasyid yang lagi naik gunung di kampus ya cuma itu. Ternyata dia bilang bukan itu. Iya dong, grup nasyid yang akhirannya voice kan banyak. Saya juga rencananya mau buat grup akapela, namanya BATHROOM VOICE.

Ya..ya.. saya merasa mereka memegang prinsip bahwa, “senior lebih dulu tau dari pada junior”. Padahal ga selamanya benar. Nyari ilmu undah gampang, ga cuma dari buku. Asal mau “melek” pasti dapat, terlepas dari ilmu apa yang didapat. Dan mungkin saja ini karena dulu si oom tau kalau saya jadi asdos. ASDOS? Iya, asdos. Pekerjaan yang dulunya saya idam-idamkan.

Waktu lagi ngobrol sama si oom, beliau membuat saya melambung dengan cara memuji (salah satu tips untuk menyenangkan hati orang lain saat dia mencapai sebuah prestasi, “puji dia disaat yang tepat, saat itu juga!!”. Ilmu Psikologinya gitu.. tsaah.. psikolog gadungan). Tapi, ada satu pertanyaan yang membuat saya nyungsep..sep..sep.. You know what? Dengan santai dan tampang tanpa dosa si oom bilang gini, “sejak kapan adek (panggilan untuk dunia lain) pintarnya?”. Speechless, ga tau mau jawab apa. Haha.. senyum saya miris saudara-saudara. Mau nangis, takut kelihatan begonya. Mau ketawa takut disangka mau ngalahin Dian Sastro (Dian Satro mulu? Ada apa dengan Dian Sastro?). Saya pilih opsi kedua sebelum menjawab, senyum tulus kecut. Mau jeduk-jedukin kepala ke tembok takut, belum di asuransi soalnya.

Si oom yang tau track record saya selama ini heran, KOK BISA? Haha..jangankan oom, saya juga bingung, kok bisa? Ya, begitulah hidup, selalu berputar. Ada kalanya di bawah dan ada kalanya di atas. Kalau tetap di bawah bukan berarti hidupnya ngesot. Hanya saja.. ya begitulah, rahasia Illahi.

Have a nice long weekend buat yang bilang hari jum’at itu HarPitNas.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s