Gallery

Kantin FST

Saat bapak-bapak jum’atan, ibu-ibu sibuk di kantin. Sama-sama adil, mengisi kembali asupan makanan rohani yang mungkin agak gersang.

Awalnya saya ga tau apa nama kajian yang saya ikuti, tapi mumpung anak baru, absen muka ga apa-apa kali ya?🙂 Dan ternyata, saat jam pulang, si uni ngasi tau kalau nama kajian itu Kantin FST (Kajian Rutin Fakultas Sains dan Teknologi). Kajian yang bertemakan Psikologi Anak ini di isi oleh seorang psikolog di salah satu Rumah Sakit swasta yang ada di Pekanbaru, kalau ga salah nama beliau Bu Santi. Seorang yang energik, pintar, dan cantik. Berikut rangkuman “konsultasi gratis” kemarin:

1. T: Bu, saya punya anak umurnya sepuluh tahun setengah. Dia kalau di rumah suka ngomong ini dan itu, ada aja yang dia omongin. Sampai-sampai, karena banyaknya dia ngomong, saya bilang gini, “udah ah nak..!!” Tapi, waktu saya nanya perkembangannya di sekolah sama gurunya, beliau bilang kalau di sekolah si anak lebih cenderung pendiam, padahal dia punya kemampuan buat menjawab. Itu gimana kira-kira yang bu? Emang sih, sejak umur tiga tahun sampai sembilan tahun lebih dia dibesarkan di Malaysia. Baru sekitar satu tahunan di sini

J: Mungkin anak ibu masih dalam proses adaptasi kultur bahasa. Saat di sekolah ia mampu untuk menangkap apa yang dimaksud oleh gurunya, tapi takut untuk menyampaikan, takut salah, takut nanti diketawain sama teman-temannya. Ibu bisa melatihnya dengan mengajaknya menceritakan tentang pelajaran yang ia dapati di sekolah dengan bahasa sekolah (Bahasa Indonesia). Lambat laun ia akan terbiasa untuk menggunakan Bahasa Indonesia

2. T: Bu, saya punya anak umur tiga setengah tahun. Saya sering pusing menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan. Pemikirannya melampaui pikiran anak seusianya. Bahkan terkadang saya banyak belajar darinya. (Waah, salut sama anak si ibu. Emang, jenius emaknya udah kelihatan. Pipinya yang chuby, rambutnya yang kriwil-kriwil, putih, lucu, ah..kok malah ngomongin betapa imutnya si dede?). Kalau saya baru pulang kerja, dia langsung nanya ini dan itu. Dengan kondisi saya yang capek, kadang saya bilang, “attiya cari sendiri ajalah ya nak, bunda capek”. Dan kalau udah gitu, dia langsung ngamuk-ngamuk –nyakar tembok, ah lebay, ini cuma bumbu tambahan untuk tulisan ini—. Apakah dengan mengatakan hal itu akan berpengaruh dengan kondisi mentalnya kelak, Bu?

J: Waah, pasti repot ya bu punya anak seperti itu. Emang, jadi ibu itu harus siap untuk direpotkan. Apalagi seperti kita yang punya aktifitas di luar, saya salut dengan para ibu-ibu yang bisa me-manage pekerjaan dan keluarga. Untuk kasus seperti yang ibu sampaikan tadi, sebenarnya si anak taunya, “Itu mah urusan bunda, kalau saya tanya bunda harus jawab, titik!!”, anak hanya mengerti itu. Dia belum bisa merasakan betapa capeknya kita pulang kerja. Dan yang harus kita lakukan adalah komunikasikan dengan baik kalau kita ga bisa jawab sekarang. Bisa dengan mengatakan, “nanti ya nak, selesai mandi nanti bunda kasi tau jawabannya”. Kalau kita ga merespon apa yang dia tanyakan, dia bisa saja mencari jawaban-jawaban di tempat lain. Dan tentu saja ini akan mengganggu psikologisnya. Dia akan merasa, “ngapain juga nanya ke bunda!!” dan ini akan menutup komunikasi kita dan si buah hati

3. T: Bu, anak saya umur lima tahun (lupa berapa tepatnya). Jadi, kalau weekend dia sering nginap di tempat uaknya, kabetulan beliau belum punya anak. Jadi, seperti ada dua metode pengasuhan yang berbeda. Kalau di rumah uaknya, dia terlalu dimanja dan bebas melakukan apapun yang dia mau. Berbeda dengan di rumah, dia udah ga mau lagi meletakkan baju kotor di keranjang baju kotor. Gimana ya bu cara menanganinya?

J: Sebenarnya memang agak susah kalau adanya dua pola pengasuhan yang berbeda ya, bu? Mungkin ibu bisa membicarakan hal ini kepada uaknya. Ibu menginginkan anak begini dan begini, jangan terlalu dimanja dan sebagainya. Intinya di sini masalah komunikasi

Pertanyaan ke-4 datang dari seorang dosen baru, belum menikah apalagi punya anak. Orang-orang pada bingung waktu si dosen mengacungkan tangannya, tanda ingin mengajukan pertanyaan. Tiba-tiba ruangan menjadi riuh, “loh, ni anak mau nanya apa?”, “loh, dia kan belum punya anak”, “haha..hihi..”. “Bodo amat, daripada saya nanti kejang-kejang karena ga nayain pertanyaan yang mengganjal dipikiran”. Dan akhirnya ruangan kembali ke keadaan sediakala

4. T: Sebelumnya, perkenalkan nama saya **** dari Jurusan Sistem Informasi. Saya masih baru di sini, bu. Mungkin ibu-ibu bingung saya mengacungkan tangan. Kalau dari tadi ibu-ibunya pada nanyain permasalah pasca punya anak, kalau saya mau tanya persiapan apa yang diperlukan sebelum punya anak? Singkat saja bu (karena waktu diskusi sebenarnya udah habis, saya minta waktu injury time-nya aja😀 )

J: Hemm.. buat mbak yang menanyakan hal-hal apa saja yang diperlukan sebelum berkeluarga, mungkin mbak bisa mempersiapkan mental untuk menjadi seorang istri, ibu, menantu, dan sebagainya. Dari awal, kita udah punya ancang-ancang, gimana nanti anak-anak kalau kita dan suami bekerja, apakah anak akan dititipkan ke TPA atau rumah mertua indah. Gimana nantinya membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Mungkin lebih kepada persiapan mental. Begitu ya mbak

Saya cuma angguk-angguk takzim dengan jawaban Bu Santi.😉 Selanjutnya ada beberapa poin lagi yang saya dapat, seperti:

1. Yang terpenting dalam membangun keluarga adalah adanya komunikasi yang baik dan aturan-aturan yang harus dijalankan oleh seluruh anggota keluarga

2. Family time. Yap, siapkan waktu untuk bercengkrama dengan anggota keluarga, bisa selesai sholat maghrib berjamaah, atau saat makan malam. Tanyakan kepada anak apa cerita seru di sekolah hari ini, siapa temannya yang paling nyebelin, atau apapun itu. Setelah dia menceritakan semua unek-uneknya, masukkan nilai-nilai kebaikan di sana. Karena, orang lebih bisa mencerna apa yang dikatakan saat ia merasa rileks

Eng..ing..eng.. ayo yang masih pada sendiri, yang udah mampu (jangan terlalu lama milih, ntar malah dapat kerak lho saking lamanya menunggu😛 ), udah ada sedikit tips tu untuk membangun keluarga dan menangani masalah psikologis anak. “Eh, lo pikir nikah itu gampang?”, “Eh, lo pikir nikah itu ribet?”. Auk ah, kaburr..😀

terkadang, terjabak dalam kondisi yang tak semestinya, membuat kita tau, bahwa kita perlu tau..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s