Gallery

Rela Diracun, Demi Apa?

Cerita ini bermula kemarin, ketika saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Biasanya amalan ini saya lakukan ketika ada libur panjang atau ada keperluan untuk pulang. Tapi, setelah saya punya kalender (senangnya bukan main karena udah punya kalender dari percetakan :D), waktu yang bisa untuk perbaikan gizi (bukan berarti selama ini saya gizi buruk ya), main sama Ce Popon, dan ketemu BoNyok (emang maling? :D), emang cuma sekarang.

Sehari sebelum keberangkatan travel udah dipesan, tapi di hari H Pak Supirnya SMS ga berangkat, demam katanya. Dan saya baru baca SMS si bapak satu jam dari waktu keberangkatan, karena si ramping mati kehabisan energi sejak subuh. Tapi, karena emang udah rezekinya pulang, akhirnya masih ada travel yang mau ngangkut saya. Kasian amat..

Awalnya adem ayem tentrem aja tuh di dalam travel, tapi baru setengah jam jalan, AC dimatikan, jendela di buka, dan kamipun dilempar ke luar jendela. Haha..luar biasa imajinasi mu nak..😀 Pasti tau kan apa yang biasanya dilakukan sama supir, apalagi kalau bukan MEROKOK. Dua orang berbeda jenis yang duduk di depan dengan nikmat mengisap tembakau yang dibungkus kertas putih. Mereka yang merokok, tapi kami (hanya saya atau penumpang lainnya juga) pun merasakan asapnya. Udah batuk-batuk, tetap aja nyambung-nyambungin batang demi batang rokok untuk dibakar.

Tersiksa saya saudara-saudara. Apa mereka merasa jantan karena merokok? Ga, ga sama sekali! Salah satu arti jantan –versi saya— adalah melindungi. Kalau meracuni itu namanya cemen dan ga bertanggungjawab. Kemana lagi hendak dicari seorang supir yang ga merokok?

Mungkin salah satu cara untuk mengurangi perokok adalah adanya ketetapan dari seorang wanita dalam memilih calon imam yang bukan perokok. Kalau ada sinyal-sinyal ga jelas yang menunjukkan ketertarikan kaum adam terhadap kaum hawa, hawa boleh lihat apa dia perokok atau tidak. Kalau kaum adamnya ngerokok, blacklist aja dari peredaran. Kalau seandainya si adam bener-bener serius, pasti dia akan mengikuti rule yang udah ditetapkan si hawa. Setidaknya ada motivasi berhenti yang kuat dari sang perokok. Motivasi itu kan alat yang paling penting bagi seseorang untuk melakukan apapun. Masalah jodoh, udah diatur sejak kita belum nongol, jadi ga usah khawatir. Kalau kaum adamnya aja ga bisa menjaga dirinya, gimana dia bisa menjaga keluarganya kelak? Sebisa mungkin dihindari, ya..ya..😉 *mulai deh sotoynya kambuh..🙂

Dengan terpaksa saya katakan, saya “rela diracun” demi bertemu dan berkumpul dengan mereka. Oh Pak Supir, tega nian dirimu memperlakukan kami begini. *nangis ngupas bawang..

2 thoughts on “Rela Diracun, Demi Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s