Gallery

Kantin FST#2

Sebenarnya, ini kantin (kajian rutin) tanggal 12 April kemarin. Tapi, ga apa-apa kali ya, mudah-mudahan bisa menjadi pengingat buat kita. Judul aslinya saya lupa, tapi intinya bagaimana menjadi wanita karir dalam pandangan Islam. Berikut poin-poin yang bisa disimpulkan:

1. Memelih pekerjaan yang HALALan Toyyibah. Jangan karena gajinya besar, hidup mewah, tapi pekerjaannya takut menimbulkan fitnah. Sekretaris misalnya, yang hanya berduan di ruangan sama si bos. Atau pekerjaan yang jelas haramnya. Bukan bermaksud mengatakan bahwa tidak boleh menjadi sekretaris, tapi silahkan lihat manfaat dan mudhorat yang akan dihasilkan. Saya kira pembaca pintar dalam menanggapi hal ini.😉

2. Pintar-pintar dalam bermuamalah, bergaul, dan berpenampilan. Mari kita ingat lagi cara berpenampilan yang dibenarkan. Kebanyakan wanita zaman sekarang, lebih mementingkan mode daripada kebutuhan dan tuntunan. Coba lihat wanita-wanita di sekeliling kita yang berpakaian, namun tidak seperti berpakaian. Saya teringat dengan sebuah hadist shahih riwayat Muslim dari Abu Hurairah yang berbunyi:

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat:
Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan, para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Kebanyakan dari kita tau tentang hadist ini, tapi tak mengindahkannya. Pernah seorang teman mengatakan kalau dia tidak bisa berjilbab kalau rambutnya tak di sanggul ke atas –seperti punuk unta. Katanya, kepalanya terlihat kecil, jilbabnya meluncur ke depan dan ba bi bu. Astaghfirullah, maafkah kami ya Robb. Bantu kami untuk kembali dan berjalan sesuai dengan tuntunanMu.

Nah, yang ke tiga yang paling penting.

3. Boleh-boleh saja wanita itu berkarir di luar, asal jangan melupakan kodratnya sebagai wanita, sebagai ibu, istri. Lagi-lagi dibutuhkan skala prioritas.

Saya salut melihat para ibu yang bekerja di luar, tapi tak meninggalkan keluarganya. Bahkan, meski berkutat dengan pekerjaan yang super sibuk, mereka bisa mengurusi keluarga dengan baik, bahkan menjadikan anak-anaknya hafizd dan hafizdoh. Saya juga salut melihat ibu-ibu yang rela meninggalkan pekerjaannya demi keluarga. Dengan sepenuh hati mereka mengabdikan dirinya untuk suami dan anak. Padahal, kalau saja suatu saat suaminya dipanggil oleh pemilik kehidupan, bagaimana nasib anak-anaknya kelak? Tapi, saya yakin, apapun keputusannya, mereka punya prioritas tersendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s