Disiplin Ilmu Sistem Informasi-1

File di atas semoga bisa membantu teman-teman (terutama saya) untuk lebih mengerti ilmu tentang Sistem Informasi. Ruang lingkup yang ternyata tidak sekedar “Analisa dan Perancangan” yang sering kita temui di Laporan Kerja Praktek ataupun Laporan Tugas Akhir. Semoga ga pusing-pusing lagi mikirin deadline pengumpulan proposal 😀 Tentukan satu topik yang teman-teman minati, cari referensi, temui dosen promotor (kalau memungkinkan), buat proposal sebaik mungkin, berdo’a, selesai. Mudah-mudahan proposalnya diterima dan lanjut ke tahap berikutnya

Oya, file ini saya dapatkan dari seorang teman -sebut saja namanya Mr. X 😀 – yang sedang melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi ternama di pulau jawa yang menjadi salah satu PT acuan kurikulum di SI UIN Suska Riau ini (malah promo kampus) 😀

Advertisements
Video

Taubat dan Do’a

Ketika jiwa merasa sesal kecewa..
Mengenang dosa-dosa yang dilakukan..
Ketika merasa tak ada lagi harapan..

Ketika diri tak ada tempat untuk mengadu..
Melepas segala resah di jiwa..

Usah berputus asa dengan rahmat Tuhan..
Teruslah perbaiki diri..

Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

Hanya kepadaNya kita menyembah..
Hanya kepadaNya kita memohon..

Kita seringkali terlupa bahwa Allah lebih tahu apa yang kita perlukan..
Teruslah mengharap kapadaNya..

Yakinlah dengan Tuhanmu..
dan bersyukurlah wahai diri..

Selagi nyawa dikandung badan,
peluang untuk kembali kepada Tuhan,
tidak pernah tertutup..

Wallahua’lam..

Petikan ceramah Prof Madya Dr Mohd Asri Zainul Abidin

Jejak-Jejak Semarang #2

Hari ke-4
Paginya diajak makan nasi kuning dkk dengan jarak yang agak jauh dari wisma sama Eva, Naila, dan Lili dengan menggunakan motor. Rasanya ya seperti nasi kuning 😀 harganya sekiratan 7 ribu pakai tempe.

Masih di sekitaran wisma, siangnya diajak ke warung Geole-Geole (ge-o-le, red) sama El, Lili, dan Riya. Saya pesan Sop Geole. Rasanya seperti soto medan atau soto betawi dengan sedikit asam (karena saya nambahin beberapa tetes jeruk nipis ke dalam mangkok, hoho..). Jejak pertempurannya ada di gambar 😀 Hargannya ditambah nasi sekitar 10ribu.

Dikarenakan besok jam 12.30 dijadwalkan pulang, lagi-lagi Eva bersedia jadi guide untuk beli oleh-oleh, sekalian dia juga ada yang mau dibeli. Berangkat sudah jam 2 lewat dan harus sudah sampai di wisma jam 3.30 karena Eva mau ngajar les. Tapi, apa yang terjadi pemirsa? Setelah oleh-oleh didapat, dia ngajak liat-liat HP dan waktupun sudah ashar, kemudian mengabari adik lesnya mengatakan bahwa lesnya diundur ke ba’da maghrib (6.30).

Sop Geole-Geole

Sop Geole-Geole

Setelah sholat Ashar di Masjid Raya Semarang yang berada di sekitaran Simpang Lima, kamipun mengisi perut dengan Siomay dan Tahu Gimbal. Dengan suasana sore, lesehan di tikar yang disediakan penjual makanan di trotoar dengan secangkir teh hangat itu..aih.. saya jarang melakukan hal-hal semacam ini. Dan itu rasanya emejing.

Suasana Simpang Lima Semarang

Suasana Simpang Lima Semarang

Sudah hampir jam 6 tapi kami masih belum juga pulang. Masih mencari sesuatu yang harus dicari. Pindah dari gedung yang satu ke gedung yang lain. Saya khawatir dengan lesnya Eva. Dan setelah barangnya dapat, kamipun sholat maghrib (lagi) di masjid yang sama dengan sholat Ashar tadi. Dan Eva-pun menyerah, tak bisa mengajar malam ini. Maap ya, Va.. 😦 Akhirnnya, kami menikmati malam singkat itu dengan duduk di tangga masjid yang berhadapan langsung dengan ramainya Simpang Lima. Tak lama bercerita, terdengar kumandang azan. Selesai sholat, kita langsung pulang dan saya nge-pack barang bawaan. Saat melihat HP, ternyata ada pemberitahuan dari maskapai yang akan membawa saya besok bahwa jadwal keberangkatannya dipercepat jadi jam 9.30. hoss.. untung sudah beli oleh-oleh, kalau tidak bisa dikurung di luar sama orang-orang kampus 😀 Padahal jam 6 pagi besok berencana ke Masjid Kampus ikut kajian, tapi apa daya, mungkin lain kali.

Hari ke-5
Hari terakhir. Setelah sholat Subuh dan Al-Ma’tsurat bareng, semua sibuk mempersiapkan diri untuk ikut kajian. Cuma saya, Shafa, dan Riya saja yang tidak ikut karena keperluan masing-masing. Setelah semuanya siap, saya pun mandi. Tapi, keluar dari kamar mandi, semuanya sudah pergi, hanya tinggal Shafa. Belum sempat pamitan dan bilang terimakasih untuk semua kebaikan yang diberikan kepada saya, untuk tempat tinggal yang nyaman, untuk kebersamaan yang diberikan, untuk kebesaran hati meminjami kasur dan bantal, untuk kerelaan memboncengi nyari lokasi tes, makanan, dan beli oleh-oleh, untuk persaudaraan ini, tanpa kata.. ah..

Saat menunggu di Bandara, berniat mau memberikan kata-kata terakhir ke penghuni wisma. Namun, ketika saya melihat Handphone, tanpa sadar bulir-bulir hangat itu menggenangi mata saya. Couse you know what? El, yang menjadi perantara saya untuk bisa tinggal di wisma mengrimkan sebuah gambar. Gambar para penghuni wisma dengan tulisan, “Safe Flight, Kak Aini 🙂 .Fii Amaanillah..(sepertinya tulisan Nai)”. Siapa yang tidak akan terharu ketika diperlakukan sebegitu baik? Padahal kita tidak punya ikatan darah. Jazakillahu fii khoir wat Azzahra, semoga Allah meneguhkan hati-hati kita dijalanNya. Menjaga kita dalam dekapanNya.

Para Penghuni Azzahra

Para Penghuni Azzahra

Jejak-Jejak Semarang #1

Seorang teman memberikan komentar di salah satu grup, “Aini ini, belum kuliah udah tau tempat-tempat wisata di sana”. Hihi..ya iya lah, selebelum ke sana kan udah nanya dulu ke Mbak Wiki dan Om Gugel. Percakapan ini dimulai saat teman yang lainnya memberikan ucapan tahniah untuk cerita saya sebelumnya dan mulailah yang lain memberikan ucapan dan komentar-komentarnya. Menurut saya, mencari tahu tentang tempat yang akan kita datangi adalah hal yang sangat penting, bahkan hukumnya wajib. Karena, kita tidak akan jadi kerbau yang hidungnya dilobangi, ikut saja kian kemari. Setidaknya sudah ada sedikit pengetahuan tentangnya.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya ke kota ini hanya sendiri. Biasanya masalah tiket, pembayaran, dan milih pesawat dibantuin sama teman (yang biasanya juga ikut dalam penerbangan). Tapi, kali ini benar-benar sendiri. Pemesanan tiket biasanya melalui teman yang menjadi agen tiket, tapi kali ini ingin mencoba memesan dengan menggunakan Traveloka (ga apa-apa nyebutin merek, itung-itung testi dari pelanggan). Pemesanannya mudah, cepat, dan yang paling penting terpercaya. Saat ini, belum ada pesawat langsung dari Pekanbaru ke Semarang. Jadi, harus transit ke Jakarta atau Batam. Kalau tidak salah 1.5 jam untuk Pekanbaru-Jakarta dan 50 menit untuk Jakarta-Semarang.

Dari 4 kali ganti pesawat (pulang-pergi), saya selalu mendapat urutan kursi bagian A atau F. Ini berarti keduanya bagian kursi di sebelah jendela. Saya jadi bisa melihat hamparan awan putih seperti kapas. Rasanya ingin menjadi Goku di cerita Dragon Balls yang punya awan King Ton. Berlarian di awan, tidur-tiduran, main petak umpet (helloww..ingat umur neng 😀 ) dan ternyata itu hanya mimpi. Mau naik kendaraan darat maupun udara, saya selalu memperhatikan awan. Selalu ada daya tarik tersendiri untuk melihatnya. Kadang, seperti melihat taman yang dipenuhi anak-anak yang bermain dengan girangnya, melihat seseorang sedang melakukan suatu aktifitas. Ada yang berwajah murung atau gembira. Melihatnya sama seperti membaca sebuah dongeng pengantar tidur. Ah, dia mulai gila..

Ceritanya dari Bandara Soeta ya. Selama beberapa kali transit yang pernah dilakukan (bahkan bermalam di sana 😀 ), saya baru tau ada musholla yang lebih nyaman dibandingkan dengan musholla di ruang tunggu yang hanya berukuran 2×2.5 meter. Letaknya di sebelah kanan dari pemeriksaan terakhir sebelum masuk ke Gate 4 (kalau tidak salah). Kenapa nyaman? Karena (1) Letak kamar kecil dan tempat wudhu’ antara laki-laki dan perempuan di batasi dinding hingga menyentuh plafon dan tempatnya tertutup. Jadi aman buat joget (?). (2) Ada 2 cermin besar: satu di sebelah kamar kecil dan dilengkapi dengan handsoap, jadi keluar kamar kecil bisa bersih-bersih sebelum wudhu’. Satu lagi di sebelah tempat wudhu’. Ya, tempat rapi-rapi sebelum sholat lah. (3) Ruangan dilengkapi AC, luas, dan bersekat antara laki-laki dan perempuan. Perkiraan saya ukuran ruangannya 7.5×3.5 meter. Ada rak untuk meletakkan barang atau mukena. (4) Bersih dan pelayanan dari mbak yang ada di sana ramah. Minusnya, AC nya kurang terasa. Tapi di sini lebih baik daripada di luar.

Saya berangkat ke Semarang hari Jum’at jam 8.30 dan sampai di wisma jam 16.30 (kelamaan di jalan) dan di sambut sama Ara yang mau balik ke Jakarta. Makan malam di Oppa Pizza, ambil Steak Paket A. Katanya tempat makan ini baru buka beberapa bulan yang lalu, tapi karena konsep dan desain tempat yang menarik dengan harga terjangkau, tempat ini menjadi tempat tongkrongan baru. Isi paket yang saya pilih ada steak ayam, nasi putih, dan es teh dengan harga hanya 13.500 perak. Es di sini bening kok, ga putih, mudah-mudahan aman.

Steak Paket A

Steak Paket A

Hari ke-2
Sebelum cek lokasi ujian, kita makan Soto Surabaya. “Tempatnya agak ga meyakinkan mbak, tapi rasanya enak”, kata Eva. Benar saja, tempatnnya berada di belakang sebuah tempat makan. Sebelum masuk ada tulisan di dinding pagar beton dengan “tanda panah soto masuk dalam”. Ternyata sudah banyak orang yang melahap makanan berkuah itu. Kami mencari posisi, kemudian menyantap soto dengan isian nasi, irisan kol, mie, bawang goreng, dan (mungkin) kerupuk yang sudah dihancurkan. Lokasi dan kondisi sekitar memang sederhana, namun benar kata Eva, sotonya enak meski enak karena mecin dan manis. Si Dida pernah bilang julukan untuk sotonya JTE (Jor*k Tapi Enak) 😀 Oya, harganya cuma 5rebo.
Malamnya beli pecel lele di warung “Lesehan Jepang” (saya lupa tepatnya apa, yang jelas ada unsur jepangnya) tak jauh dari wisma. Karena di wisma ada nasi, kita cuma beli lauk seharga 6.500,-. Rasanya lumayan.

Hari ke-3, tes.
Sebelum ke kampus untuk tes, pagi ini diantarin Eva (lagi) untuk sarapan di Pecel Bu Har (padahal lagi kurang enak badan, tapi si Eva nya tetap mau ngantar, hiks..) Pecelnya hampir sama dengan yang ada di Pekanbaru. Namun, isiannya agak berbeda. Ada nasi (sesuai pesanan, mau pakai nasi atau lontong), potongan kacang panjang, sayur (kol, daun singkong/kangkung), potongan tahu, dan seabreg pilihan gorengan sesuai selera. Ada tempe mendoan, tahu isi, bakwan biasa, bakwan udang, bayam tepung, telor ayam rebus, telor dadar, telor puyuh, isian usus, dan beberapa gorengan yang tak terdeteksi oleh saya apa namanya. Saya hanya memilih gorengan bakwan udang. Yang uniknya dari penyajian pecal ini adalah wadahnya adalah koran yang dialas dengan daun pisang dan dijepitkan dengan lidi dan semua kegiatan potong-memotong dilakukan dengan gunting. Yang ngantri? Hah..buanyakkk.. Rasanya lumayan (masih dengan nuansa manis 😀 ) dan dengan harga 6 atau 7ribu.

Pecel Bu Har

Pecel Bu Har

Dikarenakan tes, siangnya dikasi nasi kotak dengan lauk pecel ayam yang tetap manis 😀 Malamnya diajak makan sama Naila dan Dida ke Pecel Kuah, masih di sekitaran wisma. Pecel dikuahin? Kalau menurut saya ini mah namanya asam pedas atau gulai (saya ga ingat rasanya pakai santan atau tidak, langsung lahap karena kelaparan), karena rasanya lebih mirip gulai daripada pecel kebanyakan. Namun rasanya agak sedikir asam, karena saya tambahkan jeruk nipis yang mereka kasi di nasi saya. Haha.. Yap, dengan nama yang unik dan rasa yang lumayan (tidak terlalu manis, bahkan bisa dibilang terasa pedasnya), membuat tikar digelar oleh pemilik warung. Karena dua ruangan ruko (ukuran satu ruko berisi 2 meja isian 12 orang dan 2 meja tempel untuk ukuran 12 orang juga) sudah tak muat menampung pelanggan. Harga untuk gurami pecel kuahnya hanya 8ribu.

Pecel Kuah

Pecel Kuah

Sebelum sholat Isya, oom yang tinggal di sana datang bersama istri dan anak bontotnya, dengan membawa bontot juga (martabak telor dan martabak bandung) 😀 Selesai sholat diajak jalan-jalan melihat Semarang. Malam itu bisa melihat ramainya Simpang Lima dan dibawa ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang punya payung buka tutup seperti di Mekkah. Katanya payung itu hanya dibuka setiap hari jum’at dan lebaran. Naik ke menara lantai 9 melihat pemandangan Semarang malam hari, tapi sayang teropongnya lagi rusak. Dan pulangnya penghuni wisma menyantap beberapa jenis makanan yang tersedia. Kebetulan El juga baru pulang dari Solo, jadi dia bawa Intip, makanan khas Solo. Hampir sama seperti Kipang dari Sumatra barat. Namun, bagian tengahnya agak cekung dengan toping berbahan gula merah yang disiram acak.

Martabak, Intip, Nasi Goreng Padang :D

Martabak, Intip, Nasi Goreng Padang 😀

to be contonue..

Asalkan Ia Tetap Bersamaku

Dua minggu menjelang penutupan pendaftaran, saya mendapatkan informasi tentang kampus ini. Salah satu kampus tua di Indonesia yang memiliki gedung kembar di Kampus Tembalang-nya, tepatnya di daerah yang memiliki makanan khas Wingko Babat, Semarang. Tak terlihat di awal tentang kampus ini saat memilih tempat sekolah. Namun, setelah meng-klik link yang diberikan seorang teman melalui salah satu grup, haluanpun berubah. Istilah beken kampus ini adalah Undip atau Universitas Diponegoro.

Kampus ini memiliki 11 fakultas (kalau tidak salah) dan salah satunya Fakultas Pascasarjana tempat Jurusan Sistem Informasi yang akan saya tuju. Sama seperti UIN Suska yang memiliki dua daerah kampus (Sukajadi-Panam), Undip pun sama, yaitu Kampus Pleburan (kampus lama, tempat Gedung Pacsa berdiri, disebut juga daerah Semarang bawah) dan Kampus Tembalang (Kampus Baru, kegiatan belajar dipusatkan di sini, biasa disebut dengan daerah Semarang bawah). Istilah Semarang atas dan bawah terjadi karena permukaan di daerah Pleburan lebih rendah dibandingkan dengan daerah Tembalang, bahkan dulu katanya daerah bawah itu merupakan lautan, namun semuanya berubah menjadi daratan setelah negara api menyerang 😀

Setelah gagal di dua periode pendaftaran sebelumnya, di kampus yang dulunya saya ngotot cuma mau ke sana, akhirnya saya memutuskan untuk memilih dua kampus di periode ini. Setidaknya harus bisa mengambil pelajaran dari kesalahan sebelumnya yang tidak punya “backup-an” kampus. Maksudnya tidak hanya mencoba ke satu kampus saja. Karena, kalau gagal silahkan coba lagi di periode atau tahun berikutnya.

Bermodalkan niat, keyakinan, dan usaha saya beranikan diri untuk melangkahkan kaki sendirian ke Semarang, tempat yang saya buta sama sekali dengan daerahnya. Tak ada teman yang mau diajak ke sana untuk berjuang bersama, tak ada tempat tinggal yang pasti. Sebenarnya ada saudara yang sudah hampir 29 tahun tinggal di sana, tapi apalah rasanya kita tak pernah bersua, halah.. 😀 Selang seminggu sebelum keberangkatan, Allah membukakan jalan untuk tempat singgah saya. Allah kirimkan temannya teman-teman-teman kepada saya. Teman saya, sebut saja Kak Susi punya teman yang namanya Mbak Rima, punya teman namnya Mbak Ndaru, dan beliau punya teman namanya Elyda, seorang mahasiswa S1 Teknik Sipil asal Jogja yang makannya pelaaaan sangat, makan pagi bisa sekalian untuk makan siang, peace El 😀

Nah, di wisma tempat El tinggallah saya singgah. Kalau di sini (Semarang, red) tempat tinggal untuk mahasiswa itu dibagi menjadi tiga kategori: kos, kontrakan, dan wisma. Awalnya saya pikir wisma ini semacam penginapan, ternyata wisma ini adalah rumah bulatan yang dikontrakkan namun pemiliknya punya beberapa rumah yang dikontrakkan tadi. Istilahnya si pemilik rumah punya beberapa rumah dan pemilik rumah bisa terdiri dari beberapa orang. Dan biasanya wisma ini diisi oleh mahasiswa dengan fakultas yang sejenis, misalnya seperti wisma ini khusus untuk anak teknik (benerin kalo ane salah gan) 😀 Wisma ini bernama Azzahra, diapit oleh warung dan tempat cucian motor. Cukup sulit mencarinya, karena tulisan Azzahra di kain flannel-nya tak lebih lebar dari kertas A4 di pintunya 😀 Di wisma ini saya menemukan keluarga baru, saudara karena satu ikatan, Islam. Meski baru pertama kali bertemu, rasanya sudah kenal lama dengan mereka ini. Ah, begitu indahnya Ia mempertemuakan kami. Sholat berjama’ah, al-ma’tsurat bareng, kajian subuh, ah..

Satu hari sebelum tes dimulai, saya diantar untuk melihat lokasi tes oleh seorang adik manis anak sipil (sebut saja namanya Eva). Yang pertama kali terlihat saat melewati gerbang Undip ya tween tower-nya Undip. Kalau tidak salah gedung sebelah kiri itu Pusat Bahasa dkk dan sebelah kanannya Laboratorium terpadu (benerin ane lagi gan kalo ane salah 😀 ). Setelah berkeliling melihat lokasi, saya dan Eva ngaso di pintu masuk Gedung C Fakultas Ekonomi Bisnis tempat ujian TPA dan Bahasa Inggris besok pagi. Gedungnya terkunci, dan kita cerita ini itu, hingga terlihat beberapa orang yang sepertinya juga berniat sama dengan saya. Dan ketika saling menyapa dan bertanya asal, ada kegembiraan yang aneh ketika bertemu orang sumatera di pulau ini. Padahal yang satu dari Medan, satu dari Sumatera Barat, yang satu lagi dari Lampung, dan saya dari Riau. Masih ada yang ga tau Riau itu dimana? 😛

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, tes. Jam 7.30 s.d 9.30 kita diberikan soal TPA. Soalnya agak berbeda jumlah dan susunan daripada TPA dari Bappenas. Jika Bappenas soalnya dibagi menjadi tiga: kemampuan verbal, kemampuan, numerik, dan kemampuan spasial dengan jumlah soal 250 (kalau tidak salah) dan waktu 120 menit. TPA Undip berjumlah 100 soal dengan waktu 120 menit, namun lebih banyak soal hitungan dan tidak ada soal spasialnya *crying*. Alhamdulillah saya menebak 21 soal dengan urutan yang sama, yaitu B. Haha.. sudah buntu saya pemirsa. Hanya yakin dengan 79 jawaban. Ada 2 soal yang kemungkinan salah ketik (1) mencari nilai pertengan dari 4 pilihan A, B, C, dan D. Kalau jumlah opsinya ada 5, pasti ada jawabannya. Kalau 4? Saya pilih angka kedua terkecil saja. (2) Soal cerita, di skip aja, nanti kalau diceritakan soalnya dibilang membocorkan soal pula (padahal ga ingat soal 😀 )

Setelah diberi snack, istirahat 30 menit, dan antri di toilet, tes berikutnya adalah Bahasa Inggris. Soalnya juga berbeda dari beberapa tes yang pernah saya ikuti, tidak sama dengan Toefl ITP. Dengan jumlah 75 soal, waktunya hanya 75 menit dan tidak ada listening *crying again*. Kenapa dimodel soal yang saya senangi, di sini malah tidak ada soalnya? 45 soal untuk reading yang teks nya puanjaaang tenan. 10 s.d 15 soal melengkapi kata kosong di beberapa paragraph. Dan selebihnya structure. Teng, waktu habis.. dapat nasi 😀

Setelah sholat dan makan ayam penyet (manis), saatnya di-kepo-in sama professor-profesor yang bertugas hari itu untuk wawancara. Tik..tok..tik..tok.. Pewawancara berjumlah 4 orang. Yang diwawancara ada 28 orang. Satu orang pewawancara untuk satu orang pendaftar. Tapi kenapa lama sekali? Di awal, satu orang bisa sampai 20 menitan. Di akhir, 5 menitpun rasanya tak sampai. Dan saya terpilih untuk berada di 5 menit itu. Hihi..langkah suok 😀

Seminggu setelah tes, hasilnya akan diumumkan (katanya tanggal 7 April). Namun, mungkin karena terjadinya pergantian rektor, diundur menjadi 17 April. Tik..tok..nunggu lagi. Selagi menunggu, kemarin (10/04) iseng-iseng lihat beasiswa di internet. Dan saya pernah lihat ada beasiswa sandwich dan beasiswa BPPND dari DIKTI di web nya Undip. Tapi sepertinya saya tak bisa mendaftar untuk kedua beasiswa tersebut, ini terkait dengan syarat. Tapi… saya bisa melihat bahwa pengumuman calon mahasiswa untuk gelombang 1 sudah di-upload. Segera di download and open file.. teeng.. loading yang hanya beberapa detik terasa lambat. Dag..dig..dug..dorrr.. buka halaman 1, dengan no SK rektor bla bla, langsung nyari Magister Sistem Informasi. Deg, cuma ada 8 orang pemirsa, kemudian dilanjutkan dengan jurusan lainnya, tidak ada lagi tulisan Magister Sistem Informasi dan di sana tidak ada nama saya. Hati saya langsung menjerit, “Allah, inikah jawabannya? Tak adakah kesempatan saya untuk kuliah di sini?”. Dengan dada yang masih sesak, saya scroll lagi ke bawah untuk melihat nama seorang teman yang tes untuk jurusan keperawatan. Tepat dilembar berikutnya.. deg, Magister Sistem Informasinya masih ada, ternyata susunan halamannya terbalik. Dan Nama saya ADA. Iya, ada. Alhamdulillah, Alhamdulillah.. Karena hasil tak akan pernah ingkari usaha. Terimakasih ya Allah, setelah rasa pahit itu ku telan, Engkau berikan manisnya.

Ah, aku selalu yakin dengan kalimat ini, “Allah selalu memberikan jawaban IYA untuk setiap pinta. Iya, boleh. Iya, nanti. Iya, yang ini saja”

Aku tak takut sendiri, tapi aku takut jika Allah tak bersamaku

Kita Punya Cerita

Waktu menunjukkan pukul 17.30an saat hujan mulai membasahi tanah yang mulai berdebu (ceilee.. bahasanya nyastra banget yak). Sebenarnya saat itu saya berniat menyelesaikan perkuliahan di kelas, tapi dikarenakan hujan sudah turun cukup lebat, saya masih melanjutkannya hingga hampir jam 6 sore. Ketika keluar, ternyata masih ada yang kelasnya juga baru selesai, tapi kami berbeda gedung. Dan sepertinya mereka menerobos hujan dengan gagah perkasa 😀 Saya merasa tak enak sama adik-adik yang tak bisa pulang karena hujan, tapi mau diapakan lagi? 3 SKS masuknya sore jam 15.30, potong waktu sholat sampai jam 16.00 (masuk saat selesai sholat itu jauh lebih fresh dan tidak mengganggu waktu sholat), keluar jam 17.30an karena ditunggu CS. Aihh.. nikmati sajalah, bukan niat hati ingin seperti itu..

Gedung di fakultas ini ada tiga, sebut saja gedung FST, gedung Psi, dan gedung baru. Nah, kelas saya hari ini ada di gedung FST, dimana terdapat ruang dekanat, ruang senat, ruang dosen, dan cucu-cucunya berada. Dan karena di sini lebih nyaman daripada gedung-gedung lain, makanya saya tetap berada di gedung FST ini.

Suasana yang mulai gelap dan petir bergemuruh seakan saling sahut menyahut dari tempat-tempat yang berbeda, membuat orang-orang berumpul dengan membuat titik masing-masing. Ada yang mengabadikan momen “terkurung hujan” dengan berfoto ria (share fotonya dong), sekedar bercerita ringan, membuka laptop, atau yang pe-de-ka-te terselubung juga ada, peace.. 😀

Ketika waktu sholat maghrib tiba, perasaan saya semakin tidak enak, “mereka mau sholat di mana? Masjid kampus memang hanya sekitar 200 meter, tapi dengan hujan yang seperti itu tak memungkinkan mereka untuk sholat di sana.” Akhirnya lampu di kepala nyala –tumben, biasanya ga, hoho.. Ting. Saya mengajak mahasiswa cewek untuk sholat di ruang dosen Sistem Informasi di lantai 3 sedangkan yang cowok di sudut ruangan lantai 1. Saya mengira yg cowok akan sholat di ruangan sempit yang kira-kira berukuran 2×5 meter tersebut secara bergantian. Ternyata mereka menggelar sajadah panjang (seperti yang ada di masjid) di ruang tengah lobi lantai 1. Kreatif.. (Y)

Selesai sholat, saya duduk di tangga lantai 1, membaurkan diri dengan mahasiswa. Tidak ada tujuan apa-apa, hanya ingin terlihat seperti mahasiswa saja. Wkwk.. Cerita-cerita dari timur ke barat, akhirnya hujan reda di jam 8 malam. Dan semuanya pulang..

Ketika melemparkan pandangan ke parkiran, ternyata parkirannya banjir saudara-saudara. Tempat yang dulunya rawa ini telah berubah jadi gedung baru dan posisinya pun rendah dari tempat disekitarnya. Jadi, ya begitulah. Untung saja ada seorang mahasiswa yang sengaja tidak saya sebutkan di sini namanya, karena lupa. Hehe.. Saat melangkahkan kaki dari gedung FST ke parkiran yang berada di gedung baru, saya dipanggil sama mahasiswa tadi. Ternyata dia mau membantu saya mengeluarkan motor yang airnya sudah setinggi betis orang dewasa. Syukurlah motornya batuk-batuk dikit aja, mungkin karena kedinginan 😀

Terimakasih ya untuk bantuannya. Saya ga bisa menjamin nilai TPO kamu, tapi saya bisa menjamin kamu orang yang baik. Teruskanlah, teruskanlah, begitu.. Uoo..uoo.. 😀

Ambil saja hikmahnya untuk setiap kejadian. Setidaknya jadi tau apa yang menjadi kegelisan mereka saat kuliah. Nikmati saja adik-adik, jangan terlalu diambil pusing kuliahnya, dijalani saja. Nanti ada saatnya kalian akan merindukan masa-masa seperti ini 🙂

Source gambar: MS (2015)

Source gambar: MS (2015)

Materi Perkuliahan TPO

Berikut materi TPO dari pertemuan pertama hingga akhir dan akan di-upload secara berkala. Silahkan dipantau terus ya gan 🙂
Pertemuan-1 Introduction
Pertemuan-2 Pengenalan TPO
Pertemuan-3 Lingkungan, Struktur, dan Desain Organisasi
Pertemuan-4 Perilaku Individu dalam Organisasi 1
Pertemuan-5 Kepribadian dan Nilai
Pertemuan-6 Dasar-dasar Perilaku Kelompok
Pertemuan-7 Kerjasama Tim
UTS
Pertemuan-9 Mengelola Budaya Organisasi
Pertemuan-10 Mengelola Konflik
Pertemuan-11 Emosi dan Suasana Hati
Pertemuan-12 Persepsi dan Komunikasi
Pertemuan-13 Motivasi dalam Organisasi
Pertemuan-14 Kepemimpinan dan Kekuasaan