Asalkan Ia Tetap Bersamaku

Dua minggu menjelang penutupan pendaftaran, saya mendapatkan informasi tentang kampus ini. Salah satu kampus tua di Indonesia yang memiliki gedung kembar di Kampus Tembalang-nya, tepatnya di daerah yang memiliki makanan khas Wingko Babat, Semarang. Tak terlihat di awal tentang kampus ini saat memilih tempat sekolah. Namun, setelah meng-klik link yang diberikan seorang teman melalui salah satu grup, haluanpun berubah. Istilah beken kampus ini adalah Undip atau Universitas Diponegoro.

Kampus ini memiliki 11 fakultas (kalau tidak salah) dan salah satunya Fakultas Pascasarjana tempat Jurusan Sistem Informasi yang akan saya tuju. Sama seperti UIN Suska yang memiliki dua daerah kampus (Sukajadi-Panam), Undip pun sama, yaitu Kampus Pleburan (kampus lama, tempat Gedung Pacsa berdiri, disebut juga daerah Semarang bawah) dan Kampus Tembalang (Kampus Baru, kegiatan belajar dipusatkan di sini, biasa disebut dengan daerah Semarang bawah). Istilah Semarang atas dan bawah terjadi karena permukaan di daerah Pleburan lebih rendah dibandingkan dengan daerah Tembalang, bahkan dulu katanya daerah bawah itu merupakan lautan, namun semuanya berubah menjadi daratan setelah negara api menyerang 😀

Setelah gagal di dua periode pendaftaran sebelumnya, di kampus yang dulunya saya ngotot cuma mau ke sana, akhirnya saya memutuskan untuk memilih dua kampus di periode ini. Setidaknya harus bisa mengambil pelajaran dari kesalahan sebelumnya yang tidak punya “backup-an” kampus. Maksudnya tidak hanya mencoba ke satu kampus saja. Karena, kalau gagal silahkan coba lagi di periode atau tahun berikutnya.

Bermodalkan niat, keyakinan, dan usaha saya beranikan diri untuk melangkahkan kaki sendirian ke Semarang, tempat yang saya buta sama sekali dengan daerahnya. Tak ada teman yang mau diajak ke sana untuk berjuang bersama, tak ada tempat tinggal yang pasti. Sebenarnya ada saudara yang sudah hampir 29 tahun tinggal di sana, tapi apalah rasanya kita tak pernah bersua, halah.. 😀 Selang seminggu sebelum keberangkatan, Allah membukakan jalan untuk tempat singgah saya. Allah kirimkan temannya teman-teman-teman kepada saya. Teman saya, sebut saja Kak Susi punya teman yang namanya Mbak Rima, punya teman namnya Mbak Ndaru, dan beliau punya teman namanya Elyda, seorang mahasiswa S1 Teknik Sipil asal Jogja yang makannya pelaaaan sangat, makan pagi bisa sekalian untuk makan siang, peace El 😀

Nah, di wisma tempat El tinggallah saya singgah. Kalau di sini (Semarang, red) tempat tinggal untuk mahasiswa itu dibagi menjadi tiga kategori: kos, kontrakan, dan wisma. Awalnya saya pikir wisma ini semacam penginapan, ternyata wisma ini adalah rumah bulatan yang dikontrakkan namun pemiliknya punya beberapa rumah yang dikontrakkan tadi. Istilahnya si pemilik rumah punya beberapa rumah dan pemilik rumah bisa terdiri dari beberapa orang. Dan biasanya wisma ini diisi oleh mahasiswa dengan fakultas yang sejenis, misalnya seperti wisma ini khusus untuk anak teknik (benerin kalo ane salah gan) 😀 Wisma ini bernama Azzahra, diapit oleh warung dan tempat cucian motor. Cukup sulit mencarinya, karena tulisan Azzahra di kain flannel-nya tak lebih lebar dari kertas A4 di pintunya 😀 Di wisma ini saya menemukan keluarga baru, saudara karena satu ikatan, Islam. Meski baru pertama kali bertemu, rasanya sudah kenal lama dengan mereka ini. Ah, begitu indahnya Ia mempertemuakan kami. Sholat berjama’ah, al-ma’tsurat bareng, kajian subuh, ah..

Satu hari sebelum tes dimulai, saya diantar untuk melihat lokasi tes oleh seorang adik manis anak sipil (sebut saja namanya Eva). Yang pertama kali terlihat saat melewati gerbang Undip ya tween tower-nya Undip. Kalau tidak salah gedung sebelah kiri itu Pusat Bahasa dkk dan sebelah kanannya Laboratorium terpadu (benerin ane lagi gan kalo ane salah 😀 ). Setelah berkeliling melihat lokasi, saya dan Eva ngaso di pintu masuk Gedung C Fakultas Ekonomi Bisnis tempat ujian TPA dan Bahasa Inggris besok pagi. Gedungnya terkunci, dan kita cerita ini itu, hingga terlihat beberapa orang yang sepertinya juga berniat sama dengan saya. Dan ketika saling menyapa dan bertanya asal, ada kegembiraan yang aneh ketika bertemu orang sumatera di pulau ini. Padahal yang satu dari Medan, satu dari Sumatera Barat, yang satu lagi dari Lampung, dan saya dari Riau. Masih ada yang ga tau Riau itu dimana? 😛

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, tes. Jam 7.30 s.d 9.30 kita diberikan soal TPA. Soalnya agak berbeda jumlah dan susunan daripada TPA dari Bappenas. Jika Bappenas soalnya dibagi menjadi tiga: kemampuan verbal, kemampuan, numerik, dan kemampuan spasial dengan jumlah soal 250 (kalau tidak salah) dan waktu 120 menit. TPA Undip berjumlah 100 soal dengan waktu 120 menit, namun lebih banyak soal hitungan dan tidak ada soal spasialnya *crying*. Alhamdulillah saya menebak 21 soal dengan urutan yang sama, yaitu B. Haha.. sudah buntu saya pemirsa. Hanya yakin dengan 79 jawaban. Ada 2 soal yang kemungkinan salah ketik (1) mencari nilai pertengan dari 4 pilihan A, B, C, dan D. Kalau jumlah opsinya ada 5, pasti ada jawabannya. Kalau 4? Saya pilih angka kedua terkecil saja. (2) Soal cerita, di skip aja, nanti kalau diceritakan soalnya dibilang membocorkan soal pula (padahal ga ingat soal 😀 )

Setelah diberi snack, istirahat 30 menit, dan antri di toilet, tes berikutnya adalah Bahasa Inggris. Soalnya juga berbeda dari beberapa tes yang pernah saya ikuti, tidak sama dengan Toefl ITP. Dengan jumlah 75 soal, waktunya hanya 75 menit dan tidak ada listening *crying again*. Kenapa dimodel soal yang saya senangi, di sini malah tidak ada soalnya? 45 soal untuk reading yang teks nya puanjaaang tenan. 10 s.d 15 soal melengkapi kata kosong di beberapa paragraph. Dan selebihnya structure. Teng, waktu habis.. dapat nasi 😀

Setelah sholat dan makan ayam penyet (manis), saatnya di-kepo-in sama professor-profesor yang bertugas hari itu untuk wawancara. Tik..tok..tik..tok.. Pewawancara berjumlah 4 orang. Yang diwawancara ada 28 orang. Satu orang pewawancara untuk satu orang pendaftar. Tapi kenapa lama sekali? Di awal, satu orang bisa sampai 20 menitan. Di akhir, 5 menitpun rasanya tak sampai. Dan saya terpilih untuk berada di 5 menit itu. Hihi..langkah suok 😀

Seminggu setelah tes, hasilnya akan diumumkan (katanya tanggal 7 April). Namun, mungkin karena terjadinya pergantian rektor, diundur menjadi 17 April. Tik..tok..nunggu lagi. Selagi menunggu, kemarin (10/04) iseng-iseng lihat beasiswa di internet. Dan saya pernah lihat ada beasiswa sandwich dan beasiswa BPPND dari DIKTI di web nya Undip. Tapi sepertinya saya tak bisa mendaftar untuk kedua beasiswa tersebut, ini terkait dengan syarat. Tapi… saya bisa melihat bahwa pengumuman calon mahasiswa untuk gelombang 1 sudah di-upload. Segera di download and open file.. teeng.. loading yang hanya beberapa detik terasa lambat. Dag..dig..dug..dorrr.. buka halaman 1, dengan no SK rektor bla bla, langsung nyari Magister Sistem Informasi. Deg, cuma ada 8 orang pemirsa, kemudian dilanjutkan dengan jurusan lainnya, tidak ada lagi tulisan Magister Sistem Informasi dan di sana tidak ada nama saya. Hati saya langsung menjerit, “Allah, inikah jawabannya? Tak adakah kesempatan saya untuk kuliah di sini?”. Dengan dada yang masih sesak, saya scroll lagi ke bawah untuk melihat nama seorang teman yang tes untuk jurusan keperawatan. Tepat dilembar berikutnya.. deg, Magister Sistem Informasinya masih ada, ternyata susunan halamannya terbalik. Dan Nama saya ADA. Iya, ada. Alhamdulillah, Alhamdulillah.. Karena hasil tak akan pernah ingkari usaha. Terimakasih ya Allah, setelah rasa pahit itu ku telan, Engkau berikan manisnya.

Ah, aku selalu yakin dengan kalimat ini, “Allah selalu memberikan jawaban IYA untuk setiap pinta. Iya, boleh. Iya, nanti. Iya, yang ini saja”

Aku tak takut sendiri, tapi aku takut jika Allah tak bersamaku

Advertisements
Gallery

Pembelajaran

Dalam bukunya yang berjudul “Perilaku Organisasi: Organizational Behaviour”, Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge mengatakan bahwa pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Hal yang dilalui untuk mendapatkannya dengan berprilaku, berkreasi, dan merespon, sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari cara berprilaku sebelumnya.

Sebagai contoh. Suatu hari, di akhir perkuliahan, dosen memberi tugas baca kepada mahasiswa, tidak perlu dikirim via email ataupun mengumpulkan dalam bentuk hardcopy, namanya juga tugas baca. Dosen mengatakan bahwa pertemuan selanjutkan akan diacak beberapa orang mahasiswa untuk memberikan kesimpulan dari apa yang telah mereka baca. Namun, pada pertemuan selanjutnya, hanya beberapa orang saja yang berani mengatakan bahwa mereka telah membaca dan memberikan kesimpulan dari tugas tersebut. Yang lainnya tak berani mengakui bahwa mereka telah membaca, dengan alasan “itu hanya tugas baca dan tidak untuk disampaikan di kelas” atau dalam artian hanya sebagai tacid knowledge (ilmu yang dimiliki tanpa dishare ke orang lain). Padahal, maksud dosen memberikan tugas baca agar mahasiswanya mentransfer apa yang ia ketahui dari tugas yang telah diberikan serta mencari pemecahan dari masalah.

Berbagai alasan yang dilontarkan oleh mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas. Dan saat ditanya kepada kosma, yang menjadi ketua suku di kelas dan termasuk salah satu orang yang tidak “mengecungkan tangan”, si kosma bilang, “maaf bu, lupa”. Haiyyaa.. untung dosennya udah sarapan.

Sejak saat itu, satu hari menjelang perkuliahan, si kosma sering menanyakan kepada dosen apakah besok ada tugas? Karena biasanya kosma adalah seorang informan untuk teman-teman dan memiliki tanggung jawab untuk mengkoordinir kelasnya. Sekali dua kali dosen menanggapinya dengan senyuman, tapi selanjutnya ia membalas SMS dengan kalimat, “Ada. Besok ingat-ingat apa yang saya bilang, supaya ga lupa 😀 ”.

Dan kosmapun membalas, ”Emang tugas apa bu? Perasaan kemarin ga ada tugas bu”

“Nah, coba baca lagi dan pahami isi SMS tadi”

“Owh, berarti ga ada kan bu?”

“Pinter.. 🙂 ”

“Hehe, makasi ya bu.. maklum, saya mudah ingat, tapi juga mudah lupa”

Haiyya.. dan yang nulis pun lapar.. 😀

Contoh lain. Suatu ketika, ada seorang anak yang diajak temannya dalam sebuah pertemuan. Tapi sayangnya, si teman lupa kalau pertemuan itu bukan untuk temannya. Dengan kata lain, si anak jadi salah tempat dan salah tingkah. Dan akhirnya, ia akan selalu berhati-hati dalam menyeleksi ajakan siapapun, karena apa? Pengalaman telah mengajarkannya, bahwa ada kotak yang tak boleh ia buka dan kotak itu bukanlah miliknya, paling tidak untuk saat ini.

Sama halnya dengan cerita di atas. Si kosma akan merasa was-was dan berhati-hati sebelum perkuliahan berlangsung. Selalu menyakan hal-hal yang sebenarnya mungkin tak perlu ia tanyakan setiap akan kuliah. Tapi, itulah pembelajaran, perilaku yang berubah relatif permanen.

Jika perubahan perilaku hanya berselang sehari dua hari –tidak permanen, itu bukanlah pembelajaran, mungkin hanya sebagai pengaplikasian dari sebuah motivasi yang baru saja ia dapatkan. Begitu.. 🙂